Wednesday, November 14, 2007

KH. Abdullah Sajjad: Membela Bangsa dari Pesantren

Kiai Abdullah Sajjad adalah putra Kiai Syarqawi dari Nyai Qamariyah. Dilahirkan di Guluk-Guluk Sumenep Madura. Tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Namun demikian, nama besarnya tidak bisa dilupakan siapa pun. Beliau adalah pahlawan kemerdekaan yang hidup di pinggiran kota yang bagi sebagian orang kurang begitu tertarik untuk mengungkapnya. Memang beliau bukanlah sosok yang haus sanjungan dan bangga dengan publikasi. Tanpa publikasi sekalipun, semerbak kemasyhurannya dikenal banyak orang. Itu semua karena kebesaran dan peran sosial politiknya yang tidak sederhana. Ia adalah tokoh fenomenal: pendidik, pejuang, dan penulis sekaligus.

KH. Muhammad Ilyas Syarqawi: Sosok Santun dan Menghindari Perpecahan

Sketsa Biografi Intelektual

Kiai Mohammad Ilyas Syarqawi dilahirkan di Guluk-Guluk melalui pasangan Kiai Syarqawi dan Nyai Qamariyah. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun dilihat dari tahun wafatnya, 1959–sementara beliau berusia 70 tahun—maka dapat katakan bahwa beliau lahir pada tahun 1889.

Pendidikan pertamanya dimulai dari asuhan langsung orang tuanya, Kiai Syarqawi. Namun, setelah beranjak dewasa, oleh ayahnya Kiai Mohammad Ilyas dianjurkan untuk
menimba ilmu ke berbagai pesantren, misalnya Pesantren Kademangan asuhan Syaichona Kholil, Pondok Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari, dan beberapa tahun belajar di Mekkah.

Almaghfurlah KH. Muhammad Syarqawi : Membabat Guluk-Guluk, Merintis Annuqayah

Sekitar akhir paroh pertama atau awal paroh kedua abad ke-19, sosok mungil yang kelak menyinari bumi Guluk-Guluk, lahir di sebuah kota yang terletak 40 kilo meter sebelah timur Semarang, Jawa Tengah. Kudus, demikian orang menyebut kota tersebut. Oleh orang tuanya, Kiai Shidiq Romo, atau dalam riwayat lain disebut dengan Kiai Sudi Kromo, sosok mungil itu diberi nama Muhammad Syarqawi. Peristiwa kelahirannya tidak tercover secara detail. Tidak adanya sumber data yang memadai, menjadikan data-data dan sejarah kehidupannya lebih didominasi sejarah lisan yang diperoleh dari keturunannya. Kecuali itu, Huub de Jonge dalam bukunya, Madura dalam Empat Zaman, sedikit menjelaskan siapa sesungguhnya Kiai Syarqawi itu. Kiai Shidiq Romo, ayah Kiai Syarqawi, dan Kiai Kanjeng Sinuwun, kakeknya, demikian Jonge, merupakan ulama terkemuka yang pengaruhnya meluas di sekitar kota Kudus. Kudus yang saat itu, bahkan saat ini, merupakan pusat dagang dan pusat perkembangan Islam terpenting di Jawa. Letak geografisnya yang membentang di sepanjang Pantai Utara merupakan jalur strategis perdagangan saat itu. Aset ekonomi wilayah itu dikuasai oleh sejumlah pedagang saleh dan kaya, dan di kalangan mereka terbina hubungan yang harmonis dengan elite keagamaan setempat. Hubungan yang harmonis semacam inilah yang menjadikan kerja sama yang baik antara pemuka agama di satu pihak dan pemilik kapital (baca: pedagang) di pihak lain.

Tuesday, November 13, 2007

Membincang Manhaj Fikr NU


Ketika Kang Said Aqil Siradj mengatakan bahwa Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) bukan madzhab melainkan manhaj, silang pendapat di lingkungan nahdliyin tidak terbendung. Bagi Kang Said, alasannya sangat sederhana: bagaimana mungkin di dalam madzhab ada ‘sekoci’ madzhab lagi? Namun bukan tempatnya mengulang kembali debat klasik ini dalam tulisan berikut. Yang patut ditegaskan di sini adalah bagaimana menjadikan Aswaja sebagai manhaj, gugusan paradigmatik-konseptual yang memungkinkannya menjadi alat dan perangkat (tool)baik dalam berpikir maupun bertindak di kalangan nahdliyin.

Tuesday, October 30, 2007

NU dan Semangat Kebangsaan

Indonesia merupakan negara-bangsa yang menghimpun beragam suku, budaya, bahasa, bahkan agama. Dalam satu payung negara kesatuan inilah, keragaman itu menemukan tempat bersemainya. Indonesia yang dihuni beragam suku bangsa serta beragam agama menjadi ujian yang sungguh berat sekaligus berkah bagi kebangsaan kita.

Menjadi ujian karena tampaknya keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama kerap menjadi pemicu lahirnya konflik etnis dan agama. Sementara menjadi berkah karena kenyataan itu menjadi kekayaan yang patut diselamatkan sehingga kita bisa saling memahami dan menghargai sesama atas dasar kesamaan bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

Di Hari yang Fitri, Aku Kembali, Menemuimu Lagi




Sungguh letih aku menyepi, menjauh darimu. Kini, aku kembali, menemuimu lagi, setelah dulu mereka datang untuk mengapresiasi dan lainnya menghujatku. Kuucapkan terima kasih atas semuanya.

Setelah puluhan pekan aku menjauh, kini aku kembali menemuimu lagi, tanpa dengki dan tanpa emosi. Mari kita bersama, mencari dan memaknai hidup ini. Dan izinkan aku ucapkan kepadamu, Selamat Ied Fitri 1428 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.

Monday, June 26, 2006

Kiai dan Lantunan Lirik Oum Kultsum Itu

Malam itu [20/06/06], suasana begitu semarak. Dengan busana yang beragam, orang-orang menampilkan identitasnya. Dari yang berbusana nicis ala teknokrat, dengan jas, dasi, dan pantalon yang tersetrika rapi hingga bersarung dengan baju koko. Belum lagi dengan jubah dengan ikat hitam dan serban merah di kepalanya. Semuanya memadati kursi-kursi yang disediakan untuk menikmati menu makan malam.
Ya. Di sebuah hotel bintang lima itu, sejumlah orang dari berbagai negara, dan berstatus sebagai scholar berkumpul. Mereka melakukan konferensi untuk membincang banyak hal menyangkut persoalan yang membelit umat Islam. Dari soal kemiskinan hingga persoalan global paradox.

Aku tidak terlalu mengikuti alur kegiatan itu. Karena aku bukanlah scholar. Maklum aku anak kemarin sore yang iseng-iseng mengintip gawe besar di hotel besar itu. Hotel berkelas bukan barang aneh bagi para kiai, malah menjadi tempat yang wajar dalam setiap momentum yang dilakukan organisasi para ulama ini. Memang nyaman dan aman. Karena semuanya serba tersedia.

Dan malam itu, begitu menu makan malam disediakan, aku pun berbondong-bongong masuk bersama para peserta konferensi itu. Ya, walaupun bukan peserta konferensi, setidaknya aku juga bisa menjadi peserta pada makan malam di gedung mewah itu. Bukan menu makanan yang menarik perhatianku, karena aku sebenarnya tidak terlalu menikmati dengan menu-menu mewah itu. Maklum seleraku masih selera warteg, dan tentu saja perutku akan kaget dengan suguhan menu-menu aneh itu. Yang menarik perhatianku adalah iringan musik dalam momen makan malam itu. Biduawanita melantunkan musik padang pasir yang digubah penyanyi legendaris asal Mesir, Omm Kulsum yang berjudul Al-Athlal. ”Hal Ra’al hubbu sukara mislana…Kam Banaina min khayalin hawlana", begitu potongan lirik yang aku ingat. Semoga tidak salah dengar, karena pendengaranku masih pendengaran orang Indonesia.

Menarik? Bukankah iringan musik dalam setiap makan malam di hotel berbintang selalu saja menjadi pelengkap? Ya, memang. Tapi ini menarik. Sungguh menarik. Dan ini yang membuatku tertarik untuk menuliskannya di blog ini. “Ruangan ini berisik, pening kepala saya,“ begitu sapa seorang kiai mengawali perbincangan di sela-sela makan malam itu. Sengaja aku tidak mengawali pembicaraan, karena aku khawatir beliau enggan untuk bercakap. Tapi begitu beliau mengawali pembicaraan, aku sambut sapaannya. “Kenapa Pak Kiai?”, jawabku. “Berisik, pakek musik dan penyanyi wanita lagi,” begitu urainya. Aku terdiam, dan aku memaklumi, bahwa musik masih menjadi bagian yang janggal dalam tradisi pesantren. Apalagi dilengkapi dengan biduwanita. Semakin terasa “berisik”. “Oia Pak Kiai, kenapa harus menghadirkan penyanyi wanita ya?” begitu sahutku menjawab respons kecewa Pak Kiai. Kiai yang merupakan petinggi di PBNU itu terdiam. “Bagaimana peran Syuriah dalam acara ini?, ”aku menimpali pertanyaan. “Tidak tahu lah, panitia tidak memahami etika NU,” begitu keluhnya. Saya pun terdiam, tidak menimpali lagi jawaban kecewa sang kiai ini. Kami melanjutkan makan malam dalam keadaan sama-sama diam. Memang masih terlihat perasaan gelisah pada diri kiai di depanku itu.

Sementara kiai di depanku gelisah, salah seorang kiai yang berdampingan dengan beberapa orang Arab di jajaran meja di belakangku terlihat begitu gembira. Berbeda dengan kiai yang duduk di sampingku, kiai ini begitu menikmati alunan musik dengan lagu hal ra’al hubbu sukara mislana…kam banayna min khayalin hawlana ini. Sambil mengangkat dan menepuk-nepuk tangannya, sang kiai itu seoalah hendak berdiri menikmati alunan musik itu. Tentu makannya sangat nikmat dilengkapi menu musik yang menyihir perasaan itu. Berbeda dengan kiai yang duduk di sampingku yang seolah merasa terpaksa menikmati makan malam itu. Ku hanya tersenyum dalam hati, enggan menyembulkan senyum khawatir menyinggung perasaan kiai di depanku itu.

Ya begitulah kiai. Mereka memiliki alasannya sendiri untuk membenci dan menikmati musik, bahkan dengan penyanyi perempuan sekalipun. Dan kiai yang di depanku pun buru-buru keluar begitu beliau selesai makan. Saya masih duduk sambil bergumam, “Menarik juga mencatat kisah itu dalam blog”.

Tuesday, November 15, 2005

Bila Hati Tak Sebening Embun

Mungkin saja kawanku memahami bahwa bimbang menghampiriku, kalut menyelimuti pikiranku, gundah mendekapku, dan gulana menyergapku. Ketika saat itu kusapa dia sembari bertanya tentang satu dan banyak hal kepadanya. Tentang panas yang menggerahkan rasa, tentang dingin yang membekukan suasana, tentang cinta yang tidak membiaskan makna, dan tentang banyak hal yang tidak mungkin kutuangkan semua. Lalu dia pun menuliskan:

"Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulan sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu...”.

Friday, October 21, 2005

Avi, Sampaikan Salamku!

Avi, bila kau telusuri lorong itu, lorong tanpa tanjakan dan kelokan, lorong tanpa batu dan hanya dilapisi pasir, lalu kau jumpainya, sampaikan salamku. Aku sungguh merindukannya. Karena dalam sepi dia selalu temani aku dengan senyum dan ketulusannya. Saat itu, kucoba untuk mengacuhkannya, namun semakin aku mengacuhkannya, detak rinduku semakin tak kuasa kutahan. Di lorong itu, aku duduk berbincang dan berkisah tentang apa saja yang masing-masing kita alami, dan di lorong itu aku sampaikan bahwa kepercayaan saja tidak cukup menjadi bekal kita menjalani hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda. Dalam benakku selalu terpikir bahwa di setiap jengkal jarak, selalu saja ada ruang untuk berkelit menutupi apa yang aku sebut kepercayaan itu. Selalu ada potensi untuk selalu melawan dan melacuri kepercayaan. Avi, aku sungguh tak percaya dengan yang namanya kepercayaan. Apalagi saat ini, era dan zaman ini.

Saturday, September 24, 2005

....Pun Juga Persahabatan!

Sungguh aku sadar bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Sungguh aku sadar. Yang belum, bahkan tidak, pernah aku bayangkan adalah ketika sebuah pertemanan dan persahabatan harus mengenal adanya halte dan akhir. Sungguh aku tidak pernah membayangkan. Adakah akhir dari sebuah persahabatan? Bagiku, persahabatan seperti kembara. Kita berupaya untuk mengembara ke alamnya sebagaimana dia mengembara ke alamku, tanpa tendensi, tanpa pamrih. Dan bagiku kembara tidak mengenal akhir. Sebagaimana persahabatan.

Namun aku juga sadar bahwa dalam setiap kembara tidak sedikit hambatan dan tantangan. Teringat kisah kembara Musa untuk menyelami bahtera maha luas keagungan-Nya, dan menjadikan Khidir sebagai sahabat kembaranya. “Laqad Laqina min safarina hadza nashaban”: Sungguh kita temui letih dan beratnya kembara ini, tutur Musa pada ajudannya. Bertahan dalam tantangan setiap pengembaraan sama beratnya dengan bertahan merawat tulusnya persahabatan. Lagi-lagi Musa diuji-nyali untuk bersahabat dalam kembara bersama Khidir. “Sungguh Anda tidak bakal kuasa bersabar bersamaku,” terang Khidir seolah ia mengukur nyalinya.

Kesabaran kerap menjadi penghalang utama menyusuri kembara. Percaya diri saja tidaklah cukup sebagai bekal. Percaya diri memang penting menjadi bekal, tapi bukan satu-satunya. Dan kesabaran adalah bekal paling berharga dalam menyikapi setiap halangan dan hambatan yang niscaya terjadi dalam setiap kembara.

Kesabaran bukanlah sikap defensif menyikapi tantangan. Kesabaran adalah kesadaran akan hadirnya resiko dalam setiap kembara, dan begitu resiko itu menimpa kita, kita pun kuasa dan lapang menghadapinya. Kesabaran adalah nyali itu sendiri. Kesabaran adalah nyali untuk bertarung dan nyali untuk memenangkan pertarungan, di samping kesiapan menghadapi kekalahan.

Kesabaran bukanlah membiarkan kalah tanpa ada upaya untuk bertarung. Kesabaran adalah kesiapan menerima hasil pertarungan: menang atau kalah! Bukankah tak ada yang bisa mengelak dari penderitaan atas kekalahan, sebagaimana juga kita tidak mampu mengelak dari bahagia atas keberhasilan? “Tapi lebih baik kalah dalam beberapa pertempuran demi mimpi-mimpimu daripada dikalahkan tanpa pernah tahu untuk apa kau bertempur” (Chelho: 1996). Ibarat poin melakukan ijtihad yang mendapatkan poin dua begitu ‘menang” dan meraih hanya 1 poin ketika “kalah”, maka kalah dalam pertempuran masih lebih bermakna dibandingkan dengan kalah tanpa nyali, kalah tanpa mau bertempur. Kesabaran niscaya kita dekap sebagai modal kembara.

Selain kesiapan menghadapi resiko kekalahan dan kesiapan menunaikan tanggung jawab kemenangan, ancaman “pembajak” yang tiba-tiba mengusik damai dan indahnya kembara pun semestinya diwaspadai. Membiarkan percuma tanpa persiapan dalam mengawal kembara tentu saja konyol. Kesabaran dan ketulusan adalah bekal dalam setiap kembara, pun juga persahabatan. Begitu kesabaran dan ketulusan terbajak dari diri kita, maka kembara tuna makna dan persahabatan tidak lebih dari kemunafikan. Sekali lagi: bertahan dalam tantangan setiap pengembaraan sama beratnya dengan bertahan merawat tulusnya persahabatan.[]


Pojok Semanggi II
24 September 2005

Monday, September 12, 2005

Dan Waktu Pun Terus Berlalu …(Catatan 27 tahun usiaku)

Dan waktu pun terus berlalu. Kulalui langkah dalam detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan....kini 27 tahun usiaku. Usia yang tidak lagi muda, usia yang tidak lagi layak disebut remaja, apalagi kanak-kanak. Tapi apa yang dapat aku rekam dalam laju kembara yang senantiasa berlangsung ini? Apa yang bisa aku baca dari jejak langkah yang sekian lama terlumuri debu dan tak lagi bisa kubaca?

Dan waktu pun terus berlalu. Aku tak mungkin memutar kembali keriangan masa kecilku dengan segala kepolosannya. Aku pun tak mungkin lagi kuasa menghadirkan keutuhan masa lalu dan situasiku saat ini. Waktu itu benar-benar berlalu, dan kini aku berusia 27 tahun.

Tuesday, August 30, 2005

Kau Bukan Kalin …..!???

Kau bukan Kalin. Kalin yang hidup bersama bibinya setelah kepergian dua orang tuanya dan berprofesi sebagai penjual karcis Busway itu akhirnya berkenalan dengan Lando—sang fotografer yang menderita penyakit kronis. Perkenalan yang kemudian mengantarkan Kalin menjadi bintang iklan ternama. Perkenalan yang membuat Kalin pun terpesona pada Lando, dan akhirnya tak berlanjut, walau kemudian diketahui tersisa perasaan yang nyaris sama di antara keduanya. Namun….

Film UNGU VIOLET yang berkisah tentang Kalin (diperankan Dian Sastro) pun menyisakan kesan, yang memberi inspirasi pada seseorang untuk menuangkan kenyataan dan perasaannya. “Saya nyaris seperti Kalin, memang beda, tapi ada kesamaannya,” ujarnya. “Tapi Kamu bukanlah Kalin…!” batinku.

Wednesday, August 03, 2005

Coelho, Fayyoum, dan Mesir Sebagai Ardlul Hadlarah

Fayyoum. Saya mengenalmu ketika Coelho berkisah tentangmu. Berkisah tentang seorang insan yang dengan kemauannya mengejar ambisi menggali harta karun yang konon dituturkan berada di kota tersebut. Legenda pribadi yang senantiasa ia pegangi dan turuti menyusuri impi dengan segala prahara yang diyakininya pasti terjadi. Kisah tentang impi yang pasti terpenuhi selama kemauan untuk menggapainya kekal menemani. Dan Santiago, anak manusia yang mengawali karir sebagai penggembala domba itu, pun mewujudkan mimpinya. Ia pun menyulap impinya menjadi kenyataan. Menyusuri sahara dengan segala tantangan yang dihadapi, melewati piramid yang berada di Giza, Santiago akhirnya mendapatkan harta karun itu.

Tuesday, August 02, 2005

Perpustakaan Iskandariyah: Pesona Peradaban Mesir


Dua puluh lima hari berlalu sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di bumi kinanah, Mesir (7/7/05). Sejumlah perpustakaan di kota Kairo telah saya kunjungi. Begitu juga sejumlah toko buku ternama saya datangi. Banyak buku yang telah saya temukan, namun tidak semuanya kuasa saya dapatkan. Terbatasnya dana menjadi satu-satunya ganjalah. ”ketimbang tidak sama sekali, yang saya dapatkan lebih dari sekadar cukup,” batin saya menghibur diri. Namun masih tersisa dalam benak, keinginan untuk mengunjungi sebuah perpustakaan bersejarah, dan tentunya paling representatif di Mesir: Perpustakaan Iskandariah. Berharap untuk mendapatkan apa yang saya cari melengkapi survey bibliografis tentang studi ilmu Al-Qur’an, keinginan untuk mengunjungi perpustakaan bersejarah itu semakin menjadi-jadi. Maklum, niat utama ziarah saya ke kota seribu menara itu adalah penelitian pustaka studi ilmu Al-Qur’an di Mesir. Tentu saja, sasaran utama penelusuran itu adalah perpustakaan, di samping toko-toko buku terkemuka di Mesir.

Wednesday, July 27, 2005

Kujumpai Imam Syafi'i Walau Hanya Pusaranya


Tidak bijak kalau hanya memandang Mesir dari segi eksotisnya semata, sebagaimana tidak lengkap tanpa mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang bertebaran di kota Mesir ini. Tidak berlebihan jika aku mengatakan bahwa Mesir menyisakan peradaban yang luar biasa dengan orang-orang besar yang turut menorehkan perannya dalam sejarah. Peradaban dalam arti yang seluas-luasnya. Bangunan-bangunan bersejarah bertebaran di mana-mana. Masjid satu di antara peninggalan sejarah itu.

Tuesday, July 26, 2005

Sebuah Malam di Tepi Nil


Malam ini saya memutuskan untuk menikmati malam di tepi Nil. Sepanjang siang, saya bersama seorang kawan—Shiddiq Thabrani—menyusuri lorong Kairo menuju kawasan Al-Azhar. Keinginan untuk menyusuri tumpukan buku di Maktabah Al-Azhar kandas. Pasalnya, gedung berlantai belasan itu sedang direnovasi. ”Perpustakaan baru dibuka untuk publik awal bulan depan”. Saya kecewa karena sasaran utama kedatangan saya di Kairo, salah satunya adalah survey di Perpustakaan kampus terkemuka, Al-Azhar.

Monday, July 25, 2005

Eksotisme dan Keganasan Sahara


Perjalananku ke Kairo memang untuk riset. Tapi, seandainya mungkin, tentu aku memanfaatkan momen ini tidak saja melacak literatur yang menjadi faktor utama kedatanganku di kota seribu menara ini. Aku pun merasa perlu untuk menikmati keindahan panorama padang pasir dengan sejumlah keajaiban alamnya. Begitu aku merasa cukup mengelilingi sejumlah perpustakaan di Kairo, bukan di seluruh Mesir, pun juga aku merasa cukup mengunjungi sejumlah maktabah (toko buku) di kawasan ini, kuputuskan sisa waktu ini untuk menikmati panorama Mesir yang tidak saja dikenal dengan sungai Nilnya, tapi juga sejumlah kawasan wisata dan tempat berziarah lainnya. Bukit Sinai dan Sharm al-Sheikh satu dari sejumlah tempat bersejarah dan kawasan wisata yang kurencanakan untuk dikunjungi.

Sunday, July 03, 2005

Episode Sejarah Kembaraku

Pada mulanya aku hanya membayangkan keinginan, memimpikan harap, dan mengandaikan asa. Fil bad’i takunu al-ahlam. Ya, mimpi itulah yang membuatku berhasrat melalui hidup yang penuh tanda tanya, penuh keajaiban, dan terkadang kejutan-kejutan. Bisa dikatakan, mimpi adalah abstrak, tak terkenali, namun terasakan. Mimpi adalah motivasi: motivasi untuk mengubahnya menjadi nyata, mengubahnya menjadi konkret.

Monday, June 27, 2005

Resonansi ….Labilitas….dan Kurebut Kembali Akal Sehat Itu

Melebur dalam dunia perasaan seolah aku dihadapakan pada sebuah labirin penuh kelok dan tanjakan. Belum lagi lubang dan benjolan lorong yang setiap langkah terasa menyentakkan. Tiba-tiba aku merasa tenggelam dalam curam dan sesekali aku merasa terbang tanpa tambang. Begitu nuansa batin ketika perasaan kubiarkan larut dalam suasana liar tanpa nalar. Resonansi, labilitas, dan apa lagi namanya menyeruak dalam senam rasa yang nyaris tanpa kendali, bahkan tanpa emosi.

Thursday, April 07, 2005

Merebut Pel(uang)!

Pagi ini, saya merasa dihibur dengan hadirnya tiga kupu-kupu hitam. Memang tidak begitu indah tampilannya, tapi tingkahnya begitu lucu, seolah hendak mengajarkan satu hal, bahkan banyak hal, kepadaku. Menari-nari di ruang sempit kamarku, dan sesekali menghinggapi wajahku, sesekali mengganggu pandanganganku yang sedang mengetukkan jemari menuliskan sesuatu, dan sesekali tampak menertawakan tingkahku.

Kebijaksanaan lokal, kalau tepat istilah ini digunakan, mengabarkan bahwa “Ada kupu-kupu, ada tamu.” Tapi saya tidak terlalu peduli dengan pesan mitos semacam itu. Saya hanya tertarik dengan mengamati, tidak pada tiga kupu-kupu hitam yang sedang beterbangan di kamarku dengan ditemani irama musik padang pasir, tapi pada hadirnya cicak yang tampaknya begitu bersemangat memanfaatkan peluang menerima kehadiran tiga kupu-kupu itu. Bukan hanya satu cicak yang muncul, tetapi jumlahnya melebihi jumlah kupu-kupu yang bertandang di kamarku. Kehadiran kupu-kupu itu tidak disia-siakan begitu saja oleh sejumlah cicak yang berkejaran di dinding kumuh kamarku. Merayapi tepian dinding, dan terkadang menyelinap di belakang rak bukuku, cicak itu bersemangat untuk menerima kehadiran kupu-kupu itu. Bukan untuk menghormatinya, alih-alih memangsanya.