Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Tuesday, November 15, 2005

Bila Hati Tak Sebening Embun

Mungkin saja kawanku memahami bahwa bimbang menghampiriku, kalut menyelimuti pikiranku, gundah mendekapku, dan gulana menyergapku. Ketika saat itu kusapa dia sembari bertanya tentang satu dan banyak hal kepadanya. Tentang panas yang menggerahkan rasa, tentang dingin yang membekukan suasana, tentang cinta yang tidak membiaskan makna, dan tentang banyak hal yang tidak mungkin kutuangkan semua. Lalu dia pun menuliskan:

"Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulan sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu...”.

Friday, October 21, 2005

Avi, Sampaikan Salamku!

Avi, bila kau telusuri lorong itu, lorong tanpa tanjakan dan kelokan, lorong tanpa batu dan hanya dilapisi pasir, lalu kau jumpainya, sampaikan salamku. Aku sungguh merindukannya. Karena dalam sepi dia selalu temani aku dengan senyum dan ketulusannya. Saat itu, kucoba untuk mengacuhkannya, namun semakin aku mengacuhkannya, detak rinduku semakin tak kuasa kutahan. Di lorong itu, aku duduk berbincang dan berkisah tentang apa saja yang masing-masing kita alami, dan di lorong itu aku sampaikan bahwa kepercayaan saja tidak cukup menjadi bekal kita menjalani hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda. Dalam benakku selalu terpikir bahwa di setiap jengkal jarak, selalu saja ada ruang untuk berkelit menutupi apa yang aku sebut kepercayaan itu. Selalu ada potensi untuk selalu melawan dan melacuri kepercayaan. Avi, aku sungguh tak percaya dengan yang namanya kepercayaan. Apalagi saat ini, era dan zaman ini.

Tuesday, August 30, 2005

Kau Bukan Kalin …..!???

Kau bukan Kalin. Kalin yang hidup bersama bibinya setelah kepergian dua orang tuanya dan berprofesi sebagai penjual karcis Busway itu akhirnya berkenalan dengan Lando—sang fotografer yang menderita penyakit kronis. Perkenalan yang kemudian mengantarkan Kalin menjadi bintang iklan ternama. Perkenalan yang membuat Kalin pun terpesona pada Lando, dan akhirnya tak berlanjut, walau kemudian diketahui tersisa perasaan yang nyaris sama di antara keduanya. Namun….

Film UNGU VIOLET yang berkisah tentang Kalin (diperankan Dian Sastro) pun menyisakan kesan, yang memberi inspirasi pada seseorang untuk menuangkan kenyataan dan perasaannya. “Saya nyaris seperti Kalin, memang beda, tapi ada kesamaannya,” ujarnya. “Tapi Kamu bukanlah Kalin…!” batinku.

Thursday, November 25, 2004

Dan Semuanya Pasti Berubah

Kemarin, bunga itu masih kuncup dengan sedikit semerbak. Kini, bunga itu mekar dan tebar aroma surga. Besok, mungkin bunga itu kan layu. Tak ada aroma, tak ada nuansa, dan perlahan bunga-bunga itu pun berguguran. Ia pun membusuk.

Begitulah siklus alam berlangsung. Begitulah, tatkala senja tiba, malam pun hadir mengganti. Esok, pagi pun menghampiri. Begitulah cara Tuhan membina keseimbangan. Kenapa manusia tak pernah kuasa bersikap arif?