"Hidup adalah kembara. Kembara untuk merajut mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata. Hidup adalah kembara tanpa akhir."
Tuesday, January 06, 2009
Sindrom Kota dan Kenapa Kembali ke Desa?
Di akhir tahun 2008 ini, saya praktis lebih sering pulang ke ‘desa’. Desa tempat saya untuk pertama kali mengenal dunia. Tidak seperti sebelumnya, saya pulang ke desa sedikitnya satu tahun sekali, setiap kali lebaran tiba. Saya melakoni rutinitas mudik ke desa dan balik ke ‘kota’. Terlebih lagi ketika saya menikahi gadis Tuban. Lama mudik di ‘desa saya’ yang semestinya tujuh sampai sepuluh hari, kini harus dibagi dua untuk sama-sama menikmati mudik di ‘desa saya’ dan ‘desanya’.
Tuesday, August 05, 2008
Ekstremisme Musuh Agama-Agama
Dalam forum KTT luar biasa OKI tiga tahun lalu, Raja Abdullah ibn Abdul Aziz menegaskan perlunya kerja kolektif umat Islam memerangi ekstremisme dan keterbelakangan. Menurutnya, upaya ini hanya mungkin dilakukan dengan meluruskan dan membersihkan nalar dari pandangan yang menyimpang, bukan dengan tindakan kekerasan (Ahram/8/12/05).
Tuesday, July 08, 2008
Ketika Kekerasan Menjadi Jawaban
Semua bersepakat bahwa tindakan kekerasan merupakan musuh umat manusia. Hanya yang kehilangan akal dan nurani yang membenarkan kekerasan, bahkan kekerasan mengatasnamakan agama sekalipun. Tapi sayangnya, kekerasan terus saja terjadi, bahkan kuantitas dan kualitasnya kian meningkat. Institut Titian Perdamaian (ITP), salah satu lembaga yang bergelut dalam pembangunan perdamaian dan mempromosikan budaya anti kekerasan, mencatat bahwa sepanjang Januari-April 2008 ini, setidaknya 246 konflik dan aksi kekerasan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Kekerasan itu dipicu banyak faktor, baik politik, perebutan sumber daya, hingga tawuran.
Thursday, June 12, 2008
Menjadi Santri (4)
Mengaji Kitab Gundul
Setelah tiga tulisan pendek tentang menjadi santri saya posting, lalu saya terdiam. Tak lagi mampu menuliskan pengalaman masa lalu itu. Tiba-tiba saja saya terlupa kisah ketika 18 tahun yang lalu saya meresmikan diri untuk menjadi santri. Banyak yang saya alami, tapi banyak pula yang saya lupa. Memori masa lalu itu telah terlapisi banyak hal, bahkan banyak 'beban'. Sehingga ia tertindih tanpa mampu terungkap lagi.
Setelah tiga tulisan pendek tentang menjadi santri saya posting, lalu saya terdiam. Tak lagi mampu menuliskan pengalaman masa lalu itu. Tiba-tiba saja saya terlupa kisah ketika 18 tahun yang lalu saya meresmikan diri untuk menjadi santri. Banyak yang saya alami, tapi banyak pula yang saya lupa. Memori masa lalu itu telah terlapisi banyak hal, bahkan banyak 'beban'. Sehingga ia tertindih tanpa mampu terungkap lagi.
Genre Baru Intelektual NU

Jika dulu mencari sarjana di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ibarat mencari es di tengah malam, maka kini fakta itu telah berubah. Booming intelektual yang terjadi di lingkungan NU, utamanya di penghujung tahun 80-an, menjadi fakta baru di lingkungan komunitas yang secara pejoratif dilabeli tradisional, sarungan, dan pemuja takhayul, khurafat, serta bidah. Diversifikasi pengetahuan yang dimiliki komunitas pesantren ini menandai era baru dalam gerakan intelektual dan gerakan sosial di lingkungan NU. Apa yang disebut dengan gerakan sosial dan intelektual baru ini memilih jalur kultural sebagai paradigma gerakannya.
Tuesday, June 10, 2008
Telah Lahir Bidadari Kecilku
بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah telah lahir anak kami yang pertama dengan selamat pada Rabu, 21 Mei 2008/15 Jumadil Ula 1429 H jam 05:50 WIB
نايفة أرفه نجاة
NAYEVA ARFAHNEJAT (NEIVA)
Mohon doa semoga panjang umur, sehat, sejahtera, menjadi anak shalihah, dan selalu diberkati Allah
Kami yang berbahagia
Ahmad Fawaid & Ulya Fikriyati
Ikut berbahagia
Keluarga A. Sjadzili Hasan &
Keluarga Fathur Rohman
Pesan Toleran Al-Qur'an
Menegaskan bahwa teks agama berperan signifikan dalam membentuk corak keberagamaan penganutnya merupakan suatu hal yang niscaya. Dalam konteks Islam, Al-Quran menjadi teks fundamental yang menempati ruang istemewa di kalangan pemeluknya. Sayangnya, pengistemewaan itu kerap diwujudkan dalam bentuk “persembahan simbolik” kepada Tuhan dengan pahala sebagai pemuasnya, atau bahkan dijadikan sebagai media yang dipertontonkan di hadapan khalayak dalam setiap ritual keagamaan. Al-Qur’an hanya ditampilkan dan diperkenalkan sisi keindahan dan keajaibannya, sementara kandungan maknanya nyaris dilupakan dan terlupakan. Al-Qur’an tak ubahnya benda antik yang terus diabadikan dalam museum dan kemudian ditempatkan dalam ruang hampa. Ia menjadi teks yang terlepas dari konteks sejarahnya.
Tuesday, February 05, 2008
Menjadi Santri (3)
Jum’at Pagi, Ziarah ke Makam Pengasuh
Memang bukan kewajiban. Tapi begitulah tradisi yang menjadi rutinitas para santri setiap jum’at pagi. Usai Shubuh di hari Jum’at, jadual mengaji Al-Qur’an ke guru masing-masing diliburkan. Sebagai gantinya, sebagian besar santri melakukan ziarah ke makam pengasuh. Iring-iringan santri memadati dua lokasi makam pengasuh (kini tiga lokasi). Riuh bacaan surah Yasin, ditambah tahlil, bahkan juga ayat-ayat yang terangkum dalam surah munjiyat, dibacaKan para penziarah yang notabene para santri. Mereka larut dalam syahdu, menyenandungkan tawassul dan doa, sembari terobsesi dengan perjuangan pengasuh yang telah mendahuluinya.
Memang bukan kewajiban. Tapi begitulah tradisi yang menjadi rutinitas para santri setiap jum’at pagi. Usai Shubuh di hari Jum’at, jadual mengaji Al-Qur’an ke guru masing-masing diliburkan. Sebagai gantinya, sebagian besar santri melakukan ziarah ke makam pengasuh. Iring-iringan santri memadati dua lokasi makam pengasuh (kini tiga lokasi). Riuh bacaan surah Yasin, ditambah tahlil, bahkan juga ayat-ayat yang terangkum dalam surah munjiyat, dibacaKan para penziarah yang notabene para santri. Mereka larut dalam syahdu, menyenandungkan tawassul dan doa, sembari terobsesi dengan perjuangan pengasuh yang telah mendahuluinya.
Wednesday, January 16, 2008
Menjadi Santri (2)
Mandiri dalam Semangat Kebersamaan
Syukuran dan selametan. Itu ritual pertama untuk mengantarkan seseorang menjadi santri. Begitu juga aku. Karena di rumahku ada langgar tempat aku dan kawan-kawan mengaji, maka aku tidak perlu izin perpisahan dengan nenekku yang menjadi sesepuh di langgar itu. Tidak seperti kawan-kawanku yang juga mengaji bersama di langgar itu. Mereka minta restu begitu hendak melanjutkan studi dan menjadi santri. Begitu restu telah diberikan, slametan ala kadarnya dilakukan sebelum berangkat menjadi santri.
Syukuran dan selametan. Itu ritual pertama untuk mengantarkan seseorang menjadi santri. Begitu juga aku. Karena di rumahku ada langgar tempat aku dan kawan-kawan mengaji, maka aku tidak perlu izin perpisahan dengan nenekku yang menjadi sesepuh di langgar itu. Tidak seperti kawan-kawanku yang juga mengaji bersama di langgar itu. Mereka minta restu begitu hendak melanjutkan studi dan menjadi santri. Begitu restu telah diberikan, slametan ala kadarnya dilakukan sebelum berangkat menjadi santri.
Dalam Sebuah Sidang Akademis…..
Banyak kawan beranggapan bahwa sidang akademis merupakan forum untuk menjatuhkan. Oleh karena itu, banyak kawan selalu mengingatkan, “Hati-hati, tidak semua penguji punya i’tikad baik. Karena kerap kali sidang menjadi ajang balas dendam pengalaman masa lalunya.”
Saya termasuk orang yang tidak meyakini asumsi dan tuduhan banyak kawan tersebut. Tapi biarkan kawan-kawan saya berkeyakinan semacam itu, karena mungkin saja dia tahu betul gelagat penguji atau pernah mengalami, atau bahkan sebagian orang yang bertugas menguji keceplosan mengakuinya. Bagi saya, sidang akademis, atau juga disebut munaqasyah, merupakan forum yang memungkinkan untuk menimba pengetahuan dengan mempertimbangkan masukan-masukan sidang penguji. Dengan keyakinan semacam itu, tentu kita bisa terbuka menerima kritik, yang kritik itu tidak lain adalah masukan itu sendiri.
Tapi diam-diam saya mengafirmasi grundelan banyak kawan tersebut. Lantaran suatu waktu saya menghadiri promosi doktor seorang kawan. Promosi ini menarik bukan karena tema yang dibahasnya. Bukan karena kawan yang sedang mempromosikan gagasannya. Yang menarik adalah ‘pertarungan’ diam-diam di kalangan penguji di satu pihak, dan pertarungan penguji dengan promovendus di pihak lain. Saya terpaksa menggunakan istilah ‘pertarungan’ ini lantaran fakta yang terang benderang di hadapan saya.
Kisahnya begini. Usai promovendus menyampaikan paparan singkat penelitiannya, ketua sidang menyampaikan pernyataan lantaran ada salah seorang penguji yang menuliskan bacaan kritisnya terhadap hasil penelitian itu. “Hadirin sekalian, tim punguji tidak berhak menunda kelulusan siapa pun sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. Kelulusan tidak bisa ditunda hanya lantaran perbedaan perspektif antara penguji dan penulis.” Kurang lebih begitu statemen singkat ketua sidang sebelum mempersilahkan penguji menyampaikan catatannya. Catatan tertulis itu pun disampaikan oleh penguji pertama, yang isi kurang lebih begini, “Penelitian tersebut tidak ilmiah lantaran penulisnya tidak imbang dalam mengutip sumber. “Hanya yang sesuai dengan pendapatnya yang dikutip, sementara yang tidak mendukung penelitiannya diabaikan.”
Dalam kesempatan lain, dalam sebuah sidang akademis, suasana serupa juga terjadi. Penguji dengan semangatnya meragukan akurasi hasil penelitian lantaran ada asumsi yang tidak disukainya dalam kesimpulan kajian sang mahasiswa. Tak ada ruang jawab dalam forum itu. Yang ada hanyalah POKOKNYA. “Anda tidak fair dan tidak imbang. Anda telah menuduh orang, dan banyak perkataan lain.” Saya melihat, memang kajiannya rapuh.Tapi tudingan bahwa tidak ilmiah, tidak imbang, dan ungkapan POKOKNYA sejatinya tidak muncul dalam sidang akademis. Saya masih berkeyakinan bahwa sidang akademis sejatinya menjadi ruang diskusi untuk saling melengkapi dan berdiskusi secara terbuka. Sayangnya, kata POKOKNYA mengunci ruang diskusi itu. Sidang akademis menjadi sidang gugatan, bukan sidang konfirmasi dan usulan. Ternyata, dalam sidang akademis segala kemungkinan pasti terjadi. Tapi, saya masih percaya, sidang akademis bukan sidang gugatan, tapi sidang konfirmasi dan usulan. Dari situ, ‘kesempurnaan’ hasil kajian relatif mungkin dipenuhi.[]
Saya termasuk orang yang tidak meyakini asumsi dan tuduhan banyak kawan tersebut. Tapi biarkan kawan-kawan saya berkeyakinan semacam itu, karena mungkin saja dia tahu betul gelagat penguji atau pernah mengalami, atau bahkan sebagian orang yang bertugas menguji keceplosan mengakuinya. Bagi saya, sidang akademis, atau juga disebut munaqasyah, merupakan forum yang memungkinkan untuk menimba pengetahuan dengan mempertimbangkan masukan-masukan sidang penguji. Dengan keyakinan semacam itu, tentu kita bisa terbuka menerima kritik, yang kritik itu tidak lain adalah masukan itu sendiri.
Tapi diam-diam saya mengafirmasi grundelan banyak kawan tersebut. Lantaran suatu waktu saya menghadiri promosi doktor seorang kawan. Promosi ini menarik bukan karena tema yang dibahasnya. Bukan karena kawan yang sedang mempromosikan gagasannya. Yang menarik adalah ‘pertarungan’ diam-diam di kalangan penguji di satu pihak, dan pertarungan penguji dengan promovendus di pihak lain. Saya terpaksa menggunakan istilah ‘pertarungan’ ini lantaran fakta yang terang benderang di hadapan saya.
Kisahnya begini. Usai promovendus menyampaikan paparan singkat penelitiannya, ketua sidang menyampaikan pernyataan lantaran ada salah seorang penguji yang menuliskan bacaan kritisnya terhadap hasil penelitian itu. “Hadirin sekalian, tim punguji tidak berhak menunda kelulusan siapa pun sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. Kelulusan tidak bisa ditunda hanya lantaran perbedaan perspektif antara penguji dan penulis.” Kurang lebih begitu statemen singkat ketua sidang sebelum mempersilahkan penguji menyampaikan catatannya. Catatan tertulis itu pun disampaikan oleh penguji pertama, yang isi kurang lebih begini, “Penelitian tersebut tidak ilmiah lantaran penulisnya tidak imbang dalam mengutip sumber. “Hanya yang sesuai dengan pendapatnya yang dikutip, sementara yang tidak mendukung penelitiannya diabaikan.”
Dalam kesempatan lain, dalam sebuah sidang akademis, suasana serupa juga terjadi. Penguji dengan semangatnya meragukan akurasi hasil penelitian lantaran ada asumsi yang tidak disukainya dalam kesimpulan kajian sang mahasiswa. Tak ada ruang jawab dalam forum itu. Yang ada hanyalah POKOKNYA. “Anda tidak fair dan tidak imbang. Anda telah menuduh orang, dan banyak perkataan lain.” Saya melihat, memang kajiannya rapuh.Tapi tudingan bahwa tidak ilmiah, tidak imbang, dan ungkapan POKOKNYA sejatinya tidak muncul dalam sidang akademis. Saya masih berkeyakinan bahwa sidang akademis sejatinya menjadi ruang diskusi untuk saling melengkapi dan berdiskusi secara terbuka. Sayangnya, kata POKOKNYA mengunci ruang diskusi itu. Sidang akademis menjadi sidang gugatan, bukan sidang konfirmasi dan usulan. Ternyata, dalam sidang akademis segala kemungkinan pasti terjadi. Tapi, saya masih percaya, sidang akademis bukan sidang gugatan, tapi sidang konfirmasi dan usulan. Dari situ, ‘kesempurnaan’ hasil kajian relatif mungkin dipenuhi.[]
Tuesday, January 08, 2008
Menjadi Santri (1)
Berangkat Hari Rabu...
Usia 12 tahun merupakan puncak keceriaan bersama kawan-kawan sepermainan. Keceriaan bersama ketika berangkat ke langgar dengan sarung dan peci, hingga keceriaan menikmati purnama dengan bermain seludur usai mengaji dan shalat Isya di langgar. Masa-masa itu menjadi masa transisi untuk meninggalkan itu semua untuk berpindah alam, alam pondok pesantren. Tidak ada lagi waktu menyambut purnama dengan rencana permainan di malam hari. Tidak ada lagi kisah berebut mic untuk adzan, dan semacamnya.
Usia 12 tahun merupakan puncak keceriaan bersama kawan-kawan sepermainan. Keceriaan bersama ketika berangkat ke langgar dengan sarung dan peci, hingga keceriaan menikmati purnama dengan bermain seludur usai mengaji dan shalat Isya di langgar. Masa-masa itu menjadi masa transisi untuk meninggalkan itu semua untuk berpindah alam, alam pondok pesantren. Tidak ada lagi waktu menyambut purnama dengan rencana permainan di malam hari. Tidak ada lagi kisah berebut mic untuk adzan, dan semacamnya.
Monday, December 10, 2007
Temu Tengkar Agama dan Tradisi Lokal

Dapat dikatakan bahwa seluruh agama samawi yang berkembang di tanah air ini adalah agama impor. Ia hadir dari suasana dan kesadaran psikologis yang berbeda dengan suasana dan kesadaran psikologis masyarakat di tanah air. Menarik diulas bagaimana ‘agama pendatang’ ini mengkomunikasikan dirinya dalam sebuah komunitas dengan keyakinan lokal yang telah menggumpal. Dalam tulisan berikut akan terlihat ada proses komunikasi yang sesekali terbuka, namun sering kali juga tertutup. Kehadiran Islam dan Kristen ke Jawa dan ke beberapa daerah di tanah air misalnya dapat dijadikan ilustrasi dalam menggambarkan pola relasi dan tarik ulur antara ‘agama pendatang’ di satu sisi dan tradisi lokal di sisi yang lain.
Wednesday, November 14, 2007
KH. Abdullah Sajjad: Membela Bangsa dari Pesantren
Kiai Abdullah Sajjad adalah putra Kiai Syarqawi dari Nyai Qamariyah. Dilahirkan di Guluk-Guluk Sumenep Madura. Tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Namun demikian, nama besarnya tidak bisa dilupakan siapa pun. Beliau adalah pahlawan kemerdekaan yang hidup di pinggiran kota yang bagi sebagian orang kurang begitu tertarik untuk mengungkapnya. Memang beliau bukanlah sosok yang haus sanjungan dan bangga dengan publikasi. Tanpa publikasi sekalipun, semerbak kemasyhurannya dikenal banyak orang. Itu semua karena kebesaran dan peran sosial politiknya yang tidak sederhana. Ia adalah tokoh fenomenal: pendidik, pejuang, dan penulis sekaligus.
KH. Muhammad Ilyas Syarqawi: Sosok Santun dan Menghindari Perpecahan
Sketsa Biografi Intelektual
Kiai Mohammad Ilyas Syarqawi dilahirkan di Guluk-Guluk melalui pasangan Kiai Syarqawi dan Nyai Qamariyah. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun dilihat dari tahun wafatnya, 1959–sementara beliau berusia 70 tahun—maka dapat katakan bahwa beliau lahir pada tahun 1889.
Pendidikan pertamanya dimulai dari asuhan langsung orang tuanya, Kiai Syarqawi. Namun, setelah beranjak dewasa, oleh ayahnya Kiai Mohammad Ilyas dianjurkan untuk
menimba ilmu ke berbagai pesantren, misalnya Pesantren Kademangan asuhan Syaichona Kholil, Pondok Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari, dan beberapa tahun belajar di Mekkah.
Kiai Mohammad Ilyas Syarqawi dilahirkan di Guluk-Guluk melalui pasangan Kiai Syarqawi dan Nyai Qamariyah. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun dilihat dari tahun wafatnya, 1959–sementara beliau berusia 70 tahun—maka dapat katakan bahwa beliau lahir pada tahun 1889.
Pendidikan pertamanya dimulai dari asuhan langsung orang tuanya, Kiai Syarqawi. Namun, setelah beranjak dewasa, oleh ayahnya Kiai Mohammad Ilyas dianjurkan untuk
menimba ilmu ke berbagai pesantren, misalnya Pesantren Kademangan asuhan Syaichona Kholil, Pondok Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari, dan beberapa tahun belajar di Mekkah.
Almaghfurlah KH. Muhammad Syarqawi : Membabat Guluk-Guluk, Merintis Annuqayah
Sekitar akhir paroh pertama atau awal paroh kedua abad ke-19, sosok mungil yang kelak menyinari bumi Guluk-Guluk, lahir di sebuah kota yang terletak 40 kilo meter sebelah timur Semarang, Jawa Tengah. Kudus, demikian orang menyebut kota tersebut. Oleh orang tuanya, Kiai Shidiq Romo, atau dalam riwayat lain disebut dengan Kiai Sudi Kromo, sosok mungil itu diberi nama Muhammad Syarqawi. Peristiwa kelahirannya tidak tercover secara detail. Tidak adanya sumber data yang memadai, menjadikan data-data dan sejarah kehidupannya lebih didominasi sejarah lisan yang diperoleh dari keturunannya. Kecuali itu, Huub de Jonge dalam bukunya, Madura dalam Empat Zaman, sedikit menjelaskan siapa sesungguhnya Kiai Syarqawi itu. Kiai Shidiq Romo, ayah Kiai Syarqawi, dan Kiai Kanjeng Sinuwun, kakeknya, demikian Jonge, merupakan ulama terkemuka yang pengaruhnya meluas di sekitar kota Kudus. Kudus yang saat itu, bahkan saat ini, merupakan pusat dagang dan pusat perkembangan Islam terpenting di Jawa. Letak geografisnya yang membentang di sepanjang Pantai Utara merupakan jalur strategis perdagangan saat itu. Aset ekonomi wilayah itu dikuasai oleh sejumlah pedagang saleh dan kaya, dan di kalangan mereka terbina hubungan yang harmonis dengan elite keagamaan setempat. Hubungan yang harmonis semacam inilah yang menjadikan kerja sama yang baik antara pemuka agama di satu pihak dan pemilik kapital (baca: pedagang) di pihak lain.
Tuesday, November 13, 2007
Membincang Manhaj Fikr NU

Ketika Kang Said Aqil Siradj mengatakan bahwa Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) bukan madzhab melainkan manhaj, silang pendapat di lingkungan nahdliyin tidak terbendung. Bagi Kang Said, alasannya sangat sederhana: bagaimana mungkin di dalam madzhab ada ‘sekoci’ madzhab lagi? Namun bukan tempatnya mengulang kembali debat klasik ini dalam tulisan berikut. Yang patut ditegaskan di sini adalah bagaimana menjadikan Aswaja sebagai manhaj, gugusan paradigmatik-konseptual yang memungkinkannya menjadi alat dan perangkat (tool)baik dalam berpikir maupun bertindak di kalangan nahdliyin.
Tuesday, October 30, 2007
NU dan Semangat Kebangsaan
Indonesia merupakan negara-bangsa yang menghimpun beragam suku, budaya, bahasa, bahkan agama. Dalam satu payung negara kesatuan inilah, keragaman itu menemukan tempat bersemainya. Indonesia yang dihuni beragam suku bangsa serta beragam agama menjadi ujian yang sungguh berat sekaligus berkah bagi kebangsaan kita.
Menjadi ujian karena tampaknya keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama kerap menjadi pemicu lahirnya konflik etnis dan agama. Sementara menjadi berkah karena kenyataan itu menjadi kekayaan yang patut diselamatkan sehingga kita bisa saling memahami dan menghargai sesama atas dasar kesamaan bangsa, yaitu bangsa Indonesia.
Menjadi ujian karena tampaknya keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama kerap menjadi pemicu lahirnya konflik etnis dan agama. Sementara menjadi berkah karena kenyataan itu menjadi kekayaan yang patut diselamatkan sehingga kita bisa saling memahami dan menghargai sesama atas dasar kesamaan bangsa, yaitu bangsa Indonesia.
Di Hari yang Fitri, Aku Kembali, Menemuimu Lagi
Sungguh letih aku menyepi, menjauh darimu. Kini, aku kembali, menemuimu lagi, setelah dulu mereka datang untuk mengapresiasi dan lainnya menghujatku. Kuucapkan terima kasih atas semuanya.
Setelah puluhan pekan aku menjauh, kini aku kembali menemuimu lagi, tanpa dengki dan tanpa emosi. Mari kita bersama, mencari dan memaknai hidup ini. Dan izinkan aku ucapkan kepadamu, Selamat Ied Fitri 1428 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.
Monday, June 26, 2006
Kiai dan Lantunan Lirik Oum Kultsum Itu
Malam itu [20/06/06], suasana begitu semarak. Dengan busana yang beragam, orang-orang menampilkan identitasnya. Dari yang berbusana nicis ala teknokrat, dengan jas, dasi, dan pantalon yang tersetrika rapi hingga bersarung dengan baju koko. Belum lagi dengan jubah dengan ikat hitam dan serban merah di kepalanya. Semuanya memadati kursi-kursi yang disediakan untuk menikmati menu makan malam.
Ya. Di sebuah hotel bintang lima itu, sejumlah orang dari berbagai negara, dan berstatus sebagai scholar berkumpul. Mereka melakukan konferensi untuk membincang banyak hal menyangkut persoalan yang membelit umat Islam. Dari soal kemiskinan hingga persoalan global paradox.
Aku tidak terlalu mengikuti alur kegiatan itu. Karena aku bukanlah scholar. Maklum aku anak kemarin sore yang iseng-iseng mengintip gawe besar di hotel besar itu. Hotel berkelas bukan barang aneh bagi para kiai, malah menjadi tempat yang wajar dalam setiap momentum yang dilakukan organisasi para ulama ini. Memang nyaman dan aman. Karena semuanya serba tersedia.
Dan malam itu, begitu menu makan malam disediakan, aku pun berbondong-bongong masuk bersama para peserta konferensi itu. Ya, walaupun bukan peserta konferensi, setidaknya aku juga bisa menjadi peserta pada makan malam di gedung mewah itu. Bukan menu makanan yang menarik perhatianku, karena aku sebenarnya tidak terlalu menikmati dengan menu-menu mewah itu. Maklum seleraku masih selera warteg, dan tentu saja perutku akan kaget dengan suguhan menu-menu aneh itu. Yang menarik perhatianku adalah iringan musik dalam momen makan malam itu. Biduawanita melantunkan musik padang pasir yang digubah penyanyi legendaris asal Mesir, Omm Kulsum yang berjudul Al-Athlal. ”Hal Ra’al hubbu sukara mislana…Kam Banaina min khayalin hawlana", begitu potongan lirik yang aku ingat. Semoga tidak salah dengar, karena pendengaranku masih pendengaran orang Indonesia.
Menarik? Bukankah iringan musik dalam setiap makan malam di hotel berbintang selalu saja menjadi pelengkap? Ya, memang. Tapi ini menarik. Sungguh menarik. Dan ini yang membuatku tertarik untuk menuliskannya di blog ini. “Ruangan ini berisik, pening kepala saya,“ begitu sapa seorang kiai mengawali perbincangan di sela-sela makan malam itu. Sengaja aku tidak mengawali pembicaraan, karena aku khawatir beliau enggan untuk bercakap. Tapi begitu beliau mengawali pembicaraan, aku sambut sapaannya. “Kenapa Pak Kiai?”, jawabku. “Berisik, pakek musik dan penyanyi wanita lagi,” begitu urainya. Aku terdiam, dan aku memaklumi, bahwa musik masih menjadi bagian yang janggal dalam tradisi pesantren. Apalagi dilengkapi dengan biduwanita. Semakin terasa “berisik”. “Oia Pak Kiai, kenapa harus menghadirkan penyanyi wanita ya?” begitu sahutku menjawab respons kecewa Pak Kiai. Kiai yang merupakan petinggi di PBNU itu terdiam. “Bagaimana peran Syuriah dalam acara ini?, ”aku menimpali pertanyaan. “Tidak tahu lah, panitia tidak memahami etika NU,” begitu keluhnya. Saya pun terdiam, tidak menimpali lagi jawaban kecewa sang kiai ini. Kami melanjutkan makan malam dalam keadaan sama-sama diam. Memang masih terlihat perasaan gelisah pada diri kiai di depanku itu.
Sementara kiai di depanku gelisah, salah seorang kiai yang berdampingan dengan beberapa orang Arab di jajaran meja di belakangku terlihat begitu gembira. Berbeda dengan kiai yang duduk di sampingku, kiai ini begitu menikmati alunan musik dengan lagu hal ra’al hubbu sukara mislana…kam banayna min khayalin hawlana ini. Sambil mengangkat dan menepuk-nepuk tangannya, sang kiai itu seoalah hendak berdiri menikmati alunan musik itu. Tentu makannya sangat nikmat dilengkapi menu musik yang menyihir perasaan itu. Berbeda dengan kiai yang duduk di sampingku yang seolah merasa terpaksa menikmati makan malam itu. Ku hanya tersenyum dalam hati, enggan menyembulkan senyum khawatir menyinggung perasaan kiai di depanku itu.
Ya begitulah kiai. Mereka memiliki alasannya sendiri untuk membenci dan menikmati musik, bahkan dengan penyanyi perempuan sekalipun. Dan kiai yang di depanku pun buru-buru keluar begitu beliau selesai makan. Saya masih duduk sambil bergumam, “Menarik juga mencatat kisah itu dalam blog”.
Ya. Di sebuah hotel bintang lima itu, sejumlah orang dari berbagai negara, dan berstatus sebagai scholar berkumpul. Mereka melakukan konferensi untuk membincang banyak hal menyangkut persoalan yang membelit umat Islam. Dari soal kemiskinan hingga persoalan global paradox.
Aku tidak terlalu mengikuti alur kegiatan itu. Karena aku bukanlah scholar. Maklum aku anak kemarin sore yang iseng-iseng mengintip gawe besar di hotel besar itu. Hotel berkelas bukan barang aneh bagi para kiai, malah menjadi tempat yang wajar dalam setiap momentum yang dilakukan organisasi para ulama ini. Memang nyaman dan aman. Karena semuanya serba tersedia.
Dan malam itu, begitu menu makan malam disediakan, aku pun berbondong-bongong masuk bersama para peserta konferensi itu. Ya, walaupun bukan peserta konferensi, setidaknya aku juga bisa menjadi peserta pada makan malam di gedung mewah itu. Bukan menu makanan yang menarik perhatianku, karena aku sebenarnya tidak terlalu menikmati dengan menu-menu mewah itu. Maklum seleraku masih selera warteg, dan tentu saja perutku akan kaget dengan suguhan menu-menu aneh itu. Yang menarik perhatianku adalah iringan musik dalam momen makan malam itu. Biduawanita melantunkan musik padang pasir yang digubah penyanyi legendaris asal Mesir, Omm Kulsum yang berjudul Al-Athlal. ”Hal Ra’al hubbu sukara mislana…Kam Banaina min khayalin hawlana", begitu potongan lirik yang aku ingat. Semoga tidak salah dengar, karena pendengaranku masih pendengaran orang Indonesia.
Menarik? Bukankah iringan musik dalam setiap makan malam di hotel berbintang selalu saja menjadi pelengkap? Ya, memang. Tapi ini menarik. Sungguh menarik. Dan ini yang membuatku tertarik untuk menuliskannya di blog ini. “Ruangan ini berisik, pening kepala saya,“ begitu sapa seorang kiai mengawali perbincangan di sela-sela makan malam itu. Sengaja aku tidak mengawali pembicaraan, karena aku khawatir beliau enggan untuk bercakap. Tapi begitu beliau mengawali pembicaraan, aku sambut sapaannya. “Kenapa Pak Kiai?”, jawabku. “Berisik, pakek musik dan penyanyi wanita lagi,” begitu urainya. Aku terdiam, dan aku memaklumi, bahwa musik masih menjadi bagian yang janggal dalam tradisi pesantren. Apalagi dilengkapi dengan biduwanita. Semakin terasa “berisik”. “Oia Pak Kiai, kenapa harus menghadirkan penyanyi wanita ya?” begitu sahutku menjawab respons kecewa Pak Kiai. Kiai yang merupakan petinggi di PBNU itu terdiam. “Bagaimana peran Syuriah dalam acara ini?, ”aku menimpali pertanyaan. “Tidak tahu lah, panitia tidak memahami etika NU,” begitu keluhnya. Saya pun terdiam, tidak menimpali lagi jawaban kecewa sang kiai ini. Kami melanjutkan makan malam dalam keadaan sama-sama diam. Memang masih terlihat perasaan gelisah pada diri kiai di depanku itu.
Sementara kiai di depanku gelisah, salah seorang kiai yang berdampingan dengan beberapa orang Arab di jajaran meja di belakangku terlihat begitu gembira. Berbeda dengan kiai yang duduk di sampingku, kiai ini begitu menikmati alunan musik dengan lagu hal ra’al hubbu sukara mislana…kam banayna min khayalin hawlana ini. Sambil mengangkat dan menepuk-nepuk tangannya, sang kiai itu seoalah hendak berdiri menikmati alunan musik itu. Tentu makannya sangat nikmat dilengkapi menu musik yang menyihir perasaan itu. Berbeda dengan kiai yang duduk di sampingku yang seolah merasa terpaksa menikmati makan malam itu. Ku hanya tersenyum dalam hati, enggan menyembulkan senyum khawatir menyinggung perasaan kiai di depanku itu.
Ya begitulah kiai. Mereka memiliki alasannya sendiri untuk membenci dan menikmati musik, bahkan dengan penyanyi perempuan sekalipun. Dan kiai yang di depanku pun buru-buru keluar begitu beliau selesai makan. Saya masih duduk sambil bergumam, “Menarik juga mencatat kisah itu dalam blog”.
Tuesday, November 15, 2005
Bila Hati Tak Sebening Embun
Mungkin saja kawanku memahami bahwa bimbang menghampiriku, kalut menyelimuti pikiranku, gundah mendekapku, dan gulana menyergapku. Ketika saat itu kusapa dia sembari bertanya tentang satu dan banyak hal kepadanya. Tentang panas yang menggerahkan rasa, tentang dingin yang membekukan suasana, tentang cinta yang tidak membiaskan makna, dan tentang banyak hal yang tidak mungkin kutuangkan semua. Lalu dia pun menuliskan:
"Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulan sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu...”.
"Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulan sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu...”.
Subscribe to:
Posts (Atom)