"Hidup adalah kembara. Kembara untuk merajut mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata. Hidup adalah kembara tanpa akhir."
Monday, February 15, 2010
Masyarakat itu Masih Sangat Membutuhkan Tokoh Pesantren
Jika pesantren menyatu dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya tentu bukan hal aneh. Malah seharusnya begitu. Begitu juga jika pimpinan dan tokoh pesantren juga menjalin komunikasi secara cair dengan komunitas di sekitarnya. Tapi jika sudah ada jarak, apalagi ada batas-batas dengan komunitas di sekitarnya, ini satu pergeseran yang patut segera dicarikan penyelesaiannya.
Monday, January 11, 2010
Isu-Isu Polemis dalam Diskursus 'Ulumul Qur'an di Mesir Kontemporer
Kajian mengenai Al-Qur’an dan disiplin ilmu yang menopangnya menjadi perhatian yang cukup memikat. Selain karena Al-Qur’an merupakan kitab suci yang dipedomani oleh penganutnya, juga karena Al-Qur’an menyisakan banyak misteri yang membuat orang terpikat dan tertantang untuk mengkajinya. Posisinya yang demikian penting inilah yang memikat perhatian yang demikian besar sejak era Rasulullah Saw hingga kini. Perhatian itu diwujudkan dengan pencatatan Al-Qur’an ketika untuk pertama kalinya disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw kepada umatnya, pembukuan menjadi mushaf, penafsiran, dan perumusan disiplin keilmuan dalam kajian Al-Qur’an. Manifestasi perhatian yang luar biasa ini terwujud dengan melimpahnya karya-karya kesarjanaan yang berupaya membentangkan kandungan maknanya (tafsir), di samping karya-karya inteletektual seputar ‘ilmu bantu’ dalam memahami Al-Qur’an. Ilmu bantu yang dimaksud adalah ‘ulumul Qur’an.
Saturday, January 09, 2010
Perlukah Islamisasi Sains?
Tersirat bahwa ketika membincang persoalan Islamisasi sains diam-diam kita berupaya melakukan naturalisasi nilai Islam dalam sains di satu sisi, dan pengakuan bahwa sains nyata-nyata tidak bebas nilai di sisi lain. Artinya, kita mengakui bahwa sebenarnya ada endapan-endapan nilai Barat dalam sains itu sendiri, dan untuk menetralisir nilai-nilai Barat tersebut, kita memerlukan nilai-nilai Islam yang dicobamasukkan dalam sains. Jika demikian kenyataannya, maka saya berpendapat bahwa dalam kata Islamisasi sains itu sendiri terkandung kontradiksi dalam istilah, contradictio in terminis. Kontradiksi yang dimaksud adalah seolah kita mengukuhkan asumsi sebagian besar kalangan yang mencoba menarik jarak antara agama dan sains. Dan di sinilah sebenarnya kita diam-diam mengabsahkan pertentangan antara agama dan sains.
Thursday, January 07, 2010
Tradisi Repetisi dalam Pembelajaran di Pesantren
Dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya, pesantren memiliki keunikan sendiri. Pola belajar-mengajar sepanjang waktu dengan menjadikan kitab kuning sebagai bahan ajarnya merupakan salah satu dari sejumlah keunikan lembaga pendidikan tua ini. Kitab kuning yang menjadi bahan ajarnya pun nyaris seragam dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Ditengarai itu karena kesamaan ‘asal-usul’ intelektual para pendiri pesantrennya, yang ujungnya juga berdampak pada perjumpaan kurikulum antar pesantren.
Tuesday, January 06, 2009
Sindrom Kota dan Kenapa Kembali ke Desa?
Di akhir tahun 2008 ini, saya praktis lebih sering pulang ke ‘desa’. Desa tempat saya untuk pertama kali mengenal dunia. Tidak seperti sebelumnya, saya pulang ke desa sedikitnya satu tahun sekali, setiap kali lebaran tiba. Saya melakoni rutinitas mudik ke desa dan balik ke ‘kota’. Terlebih lagi ketika saya menikahi gadis Tuban. Lama mudik di ‘desa saya’ yang semestinya tujuh sampai sepuluh hari, kini harus dibagi dua untuk sama-sama menikmati mudik di ‘desa saya’ dan ‘desanya’.
Tuesday, August 05, 2008
Ekstremisme Musuh Agama-Agama
Dalam forum KTT luar biasa OKI tiga tahun lalu, Raja Abdullah ibn Abdul Aziz menegaskan perlunya kerja kolektif umat Islam memerangi ekstremisme dan keterbelakangan. Menurutnya, upaya ini hanya mungkin dilakukan dengan meluruskan dan membersihkan nalar dari pandangan yang menyimpang, bukan dengan tindakan kekerasan (Ahram/8/12/05).
Tuesday, July 08, 2008
Ketika Kekerasan Menjadi Jawaban
Semua bersepakat bahwa tindakan kekerasan merupakan musuh umat manusia. Hanya yang kehilangan akal dan nurani yang membenarkan kekerasan, bahkan kekerasan mengatasnamakan agama sekalipun. Tapi sayangnya, kekerasan terus saja terjadi, bahkan kuantitas dan kualitasnya kian meningkat. Institut Titian Perdamaian (ITP), salah satu lembaga yang bergelut dalam pembangunan perdamaian dan mempromosikan budaya anti kekerasan, mencatat bahwa sepanjang Januari-April 2008 ini, setidaknya 246 konflik dan aksi kekerasan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Kekerasan itu dipicu banyak faktor, baik politik, perebutan sumber daya, hingga tawuran.
Thursday, June 12, 2008
Menjadi Santri (4)
Mengaji Kitab Gundul
Setelah tiga tulisan pendek tentang menjadi santri saya posting, lalu saya terdiam. Tak lagi mampu menuliskan pengalaman masa lalu itu. Tiba-tiba saja saya terlupa kisah ketika 18 tahun yang lalu saya meresmikan diri untuk menjadi santri. Banyak yang saya alami, tapi banyak pula yang saya lupa. Memori masa lalu itu telah terlapisi banyak hal, bahkan banyak 'beban'. Sehingga ia tertindih tanpa mampu terungkap lagi.
Setelah tiga tulisan pendek tentang menjadi santri saya posting, lalu saya terdiam. Tak lagi mampu menuliskan pengalaman masa lalu itu. Tiba-tiba saja saya terlupa kisah ketika 18 tahun yang lalu saya meresmikan diri untuk menjadi santri. Banyak yang saya alami, tapi banyak pula yang saya lupa. Memori masa lalu itu telah terlapisi banyak hal, bahkan banyak 'beban'. Sehingga ia tertindih tanpa mampu terungkap lagi.
Genre Baru Intelektual NU

Jika dulu mencari sarjana di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ibarat mencari es di tengah malam, maka kini fakta itu telah berubah. Booming intelektual yang terjadi di lingkungan NU, utamanya di penghujung tahun 80-an, menjadi fakta baru di lingkungan komunitas yang secara pejoratif dilabeli tradisional, sarungan, dan pemuja takhayul, khurafat, serta bidah. Diversifikasi pengetahuan yang dimiliki komunitas pesantren ini menandai era baru dalam gerakan intelektual dan gerakan sosial di lingkungan NU. Apa yang disebut dengan gerakan sosial dan intelektual baru ini memilih jalur kultural sebagai paradigma gerakannya.
Tuesday, June 10, 2008
Telah Lahir Bidadari Kecilku
بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah telah lahir anak kami yang pertama dengan selamat pada Rabu, 21 Mei 2008/15 Jumadil Ula 1429 H jam 05:50 WIB
نايفة أرفه نجاة
NAYEVA ARFAHNEJAT (NEIVA)
Mohon doa semoga panjang umur, sehat, sejahtera, menjadi anak shalihah, dan selalu diberkati Allah
Kami yang berbahagia
Ahmad Fawaid & Ulya Fikriyati
Ikut berbahagia
Keluarga A. Sjadzili Hasan &
Keluarga Fathur Rohman
Pesan Toleran Al-Qur'an
Menegaskan bahwa teks agama berperan signifikan dalam membentuk corak keberagamaan penganutnya merupakan suatu hal yang niscaya. Dalam konteks Islam, Al-Quran menjadi teks fundamental yang menempati ruang istemewa di kalangan pemeluknya. Sayangnya, pengistemewaan itu kerap diwujudkan dalam bentuk “persembahan simbolik” kepada Tuhan dengan pahala sebagai pemuasnya, atau bahkan dijadikan sebagai media yang dipertontonkan di hadapan khalayak dalam setiap ritual keagamaan. Al-Qur’an hanya ditampilkan dan diperkenalkan sisi keindahan dan keajaibannya, sementara kandungan maknanya nyaris dilupakan dan terlupakan. Al-Qur’an tak ubahnya benda antik yang terus diabadikan dalam museum dan kemudian ditempatkan dalam ruang hampa. Ia menjadi teks yang terlepas dari konteks sejarahnya.
Tuesday, February 05, 2008
Menjadi Santri (3)
Jum’at Pagi, Ziarah ke Makam Pengasuh
Memang bukan kewajiban. Tapi begitulah tradisi yang menjadi rutinitas para santri setiap jum’at pagi. Usai Shubuh di hari Jum’at, jadual mengaji Al-Qur’an ke guru masing-masing diliburkan. Sebagai gantinya, sebagian besar santri melakukan ziarah ke makam pengasuh. Iring-iringan santri memadati dua lokasi makam pengasuh (kini tiga lokasi). Riuh bacaan surah Yasin, ditambah tahlil, bahkan juga ayat-ayat yang terangkum dalam surah munjiyat, dibacaKan para penziarah yang notabene para santri. Mereka larut dalam syahdu, menyenandungkan tawassul dan doa, sembari terobsesi dengan perjuangan pengasuh yang telah mendahuluinya.
Memang bukan kewajiban. Tapi begitulah tradisi yang menjadi rutinitas para santri setiap jum’at pagi. Usai Shubuh di hari Jum’at, jadual mengaji Al-Qur’an ke guru masing-masing diliburkan. Sebagai gantinya, sebagian besar santri melakukan ziarah ke makam pengasuh. Iring-iringan santri memadati dua lokasi makam pengasuh (kini tiga lokasi). Riuh bacaan surah Yasin, ditambah tahlil, bahkan juga ayat-ayat yang terangkum dalam surah munjiyat, dibacaKan para penziarah yang notabene para santri. Mereka larut dalam syahdu, menyenandungkan tawassul dan doa, sembari terobsesi dengan perjuangan pengasuh yang telah mendahuluinya.
Wednesday, January 16, 2008
Menjadi Santri (2)
Mandiri dalam Semangat Kebersamaan
Syukuran dan selametan. Itu ritual pertama untuk mengantarkan seseorang menjadi santri. Begitu juga aku. Karena di rumahku ada langgar tempat aku dan kawan-kawan mengaji, maka aku tidak perlu izin perpisahan dengan nenekku yang menjadi sesepuh di langgar itu. Tidak seperti kawan-kawanku yang juga mengaji bersama di langgar itu. Mereka minta restu begitu hendak melanjutkan studi dan menjadi santri. Begitu restu telah diberikan, slametan ala kadarnya dilakukan sebelum berangkat menjadi santri.
Syukuran dan selametan. Itu ritual pertama untuk mengantarkan seseorang menjadi santri. Begitu juga aku. Karena di rumahku ada langgar tempat aku dan kawan-kawan mengaji, maka aku tidak perlu izin perpisahan dengan nenekku yang menjadi sesepuh di langgar itu. Tidak seperti kawan-kawanku yang juga mengaji bersama di langgar itu. Mereka minta restu begitu hendak melanjutkan studi dan menjadi santri. Begitu restu telah diberikan, slametan ala kadarnya dilakukan sebelum berangkat menjadi santri.
Dalam Sebuah Sidang Akademis…..
Banyak kawan beranggapan bahwa sidang akademis merupakan forum untuk menjatuhkan. Oleh karena itu, banyak kawan selalu mengingatkan, “Hati-hati, tidak semua penguji punya i’tikad baik. Karena kerap kali sidang menjadi ajang balas dendam pengalaman masa lalunya.”
Saya termasuk orang yang tidak meyakini asumsi dan tuduhan banyak kawan tersebut. Tapi biarkan kawan-kawan saya berkeyakinan semacam itu, karena mungkin saja dia tahu betul gelagat penguji atau pernah mengalami, atau bahkan sebagian orang yang bertugas menguji keceplosan mengakuinya. Bagi saya, sidang akademis, atau juga disebut munaqasyah, merupakan forum yang memungkinkan untuk menimba pengetahuan dengan mempertimbangkan masukan-masukan sidang penguji. Dengan keyakinan semacam itu, tentu kita bisa terbuka menerima kritik, yang kritik itu tidak lain adalah masukan itu sendiri.
Tapi diam-diam saya mengafirmasi grundelan banyak kawan tersebut. Lantaran suatu waktu saya menghadiri promosi doktor seorang kawan. Promosi ini menarik bukan karena tema yang dibahasnya. Bukan karena kawan yang sedang mempromosikan gagasannya. Yang menarik adalah ‘pertarungan’ diam-diam di kalangan penguji di satu pihak, dan pertarungan penguji dengan promovendus di pihak lain. Saya terpaksa menggunakan istilah ‘pertarungan’ ini lantaran fakta yang terang benderang di hadapan saya.
Kisahnya begini. Usai promovendus menyampaikan paparan singkat penelitiannya, ketua sidang menyampaikan pernyataan lantaran ada salah seorang penguji yang menuliskan bacaan kritisnya terhadap hasil penelitian itu. “Hadirin sekalian, tim punguji tidak berhak menunda kelulusan siapa pun sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. Kelulusan tidak bisa ditunda hanya lantaran perbedaan perspektif antara penguji dan penulis.” Kurang lebih begitu statemen singkat ketua sidang sebelum mempersilahkan penguji menyampaikan catatannya. Catatan tertulis itu pun disampaikan oleh penguji pertama, yang isi kurang lebih begini, “Penelitian tersebut tidak ilmiah lantaran penulisnya tidak imbang dalam mengutip sumber. “Hanya yang sesuai dengan pendapatnya yang dikutip, sementara yang tidak mendukung penelitiannya diabaikan.”
Dalam kesempatan lain, dalam sebuah sidang akademis, suasana serupa juga terjadi. Penguji dengan semangatnya meragukan akurasi hasil penelitian lantaran ada asumsi yang tidak disukainya dalam kesimpulan kajian sang mahasiswa. Tak ada ruang jawab dalam forum itu. Yang ada hanyalah POKOKNYA. “Anda tidak fair dan tidak imbang. Anda telah menuduh orang, dan banyak perkataan lain.” Saya melihat, memang kajiannya rapuh.Tapi tudingan bahwa tidak ilmiah, tidak imbang, dan ungkapan POKOKNYA sejatinya tidak muncul dalam sidang akademis. Saya masih berkeyakinan bahwa sidang akademis sejatinya menjadi ruang diskusi untuk saling melengkapi dan berdiskusi secara terbuka. Sayangnya, kata POKOKNYA mengunci ruang diskusi itu. Sidang akademis menjadi sidang gugatan, bukan sidang konfirmasi dan usulan. Ternyata, dalam sidang akademis segala kemungkinan pasti terjadi. Tapi, saya masih percaya, sidang akademis bukan sidang gugatan, tapi sidang konfirmasi dan usulan. Dari situ, ‘kesempurnaan’ hasil kajian relatif mungkin dipenuhi.[]
Saya termasuk orang yang tidak meyakini asumsi dan tuduhan banyak kawan tersebut. Tapi biarkan kawan-kawan saya berkeyakinan semacam itu, karena mungkin saja dia tahu betul gelagat penguji atau pernah mengalami, atau bahkan sebagian orang yang bertugas menguji keceplosan mengakuinya. Bagi saya, sidang akademis, atau juga disebut munaqasyah, merupakan forum yang memungkinkan untuk menimba pengetahuan dengan mempertimbangkan masukan-masukan sidang penguji. Dengan keyakinan semacam itu, tentu kita bisa terbuka menerima kritik, yang kritik itu tidak lain adalah masukan itu sendiri.
Tapi diam-diam saya mengafirmasi grundelan banyak kawan tersebut. Lantaran suatu waktu saya menghadiri promosi doktor seorang kawan. Promosi ini menarik bukan karena tema yang dibahasnya. Bukan karena kawan yang sedang mempromosikan gagasannya. Yang menarik adalah ‘pertarungan’ diam-diam di kalangan penguji di satu pihak, dan pertarungan penguji dengan promovendus di pihak lain. Saya terpaksa menggunakan istilah ‘pertarungan’ ini lantaran fakta yang terang benderang di hadapan saya.
Kisahnya begini. Usai promovendus menyampaikan paparan singkat penelitiannya, ketua sidang menyampaikan pernyataan lantaran ada salah seorang penguji yang menuliskan bacaan kritisnya terhadap hasil penelitian itu. “Hadirin sekalian, tim punguji tidak berhak menunda kelulusan siapa pun sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. Kelulusan tidak bisa ditunda hanya lantaran perbedaan perspektif antara penguji dan penulis.” Kurang lebih begitu statemen singkat ketua sidang sebelum mempersilahkan penguji menyampaikan catatannya. Catatan tertulis itu pun disampaikan oleh penguji pertama, yang isi kurang lebih begini, “Penelitian tersebut tidak ilmiah lantaran penulisnya tidak imbang dalam mengutip sumber. “Hanya yang sesuai dengan pendapatnya yang dikutip, sementara yang tidak mendukung penelitiannya diabaikan.”
Dalam kesempatan lain, dalam sebuah sidang akademis, suasana serupa juga terjadi. Penguji dengan semangatnya meragukan akurasi hasil penelitian lantaran ada asumsi yang tidak disukainya dalam kesimpulan kajian sang mahasiswa. Tak ada ruang jawab dalam forum itu. Yang ada hanyalah POKOKNYA. “Anda tidak fair dan tidak imbang. Anda telah menuduh orang, dan banyak perkataan lain.” Saya melihat, memang kajiannya rapuh.Tapi tudingan bahwa tidak ilmiah, tidak imbang, dan ungkapan POKOKNYA sejatinya tidak muncul dalam sidang akademis. Saya masih berkeyakinan bahwa sidang akademis sejatinya menjadi ruang diskusi untuk saling melengkapi dan berdiskusi secara terbuka. Sayangnya, kata POKOKNYA mengunci ruang diskusi itu. Sidang akademis menjadi sidang gugatan, bukan sidang konfirmasi dan usulan. Ternyata, dalam sidang akademis segala kemungkinan pasti terjadi. Tapi, saya masih percaya, sidang akademis bukan sidang gugatan, tapi sidang konfirmasi dan usulan. Dari situ, ‘kesempurnaan’ hasil kajian relatif mungkin dipenuhi.[]
Tuesday, January 08, 2008
Menjadi Santri (1)
Berangkat Hari Rabu...
Usia 12 tahun merupakan puncak keceriaan bersama kawan-kawan sepermainan. Keceriaan bersama ketika berangkat ke langgar dengan sarung dan peci, hingga keceriaan menikmati purnama dengan bermain seludur usai mengaji dan shalat Isya di langgar. Masa-masa itu menjadi masa transisi untuk meninggalkan itu semua untuk berpindah alam, alam pondok pesantren. Tidak ada lagi waktu menyambut purnama dengan rencana permainan di malam hari. Tidak ada lagi kisah berebut mic untuk adzan, dan semacamnya.
Usia 12 tahun merupakan puncak keceriaan bersama kawan-kawan sepermainan. Keceriaan bersama ketika berangkat ke langgar dengan sarung dan peci, hingga keceriaan menikmati purnama dengan bermain seludur usai mengaji dan shalat Isya di langgar. Masa-masa itu menjadi masa transisi untuk meninggalkan itu semua untuk berpindah alam, alam pondok pesantren. Tidak ada lagi waktu menyambut purnama dengan rencana permainan di malam hari. Tidak ada lagi kisah berebut mic untuk adzan, dan semacamnya.
Monday, December 10, 2007
Temu Tengkar Agama dan Tradisi Lokal

Dapat dikatakan bahwa seluruh agama samawi yang berkembang di tanah air ini adalah agama impor. Ia hadir dari suasana dan kesadaran psikologis yang berbeda dengan suasana dan kesadaran psikologis masyarakat di tanah air. Menarik diulas bagaimana ‘agama pendatang’ ini mengkomunikasikan dirinya dalam sebuah komunitas dengan keyakinan lokal yang telah menggumpal. Dalam tulisan berikut akan terlihat ada proses komunikasi yang sesekali terbuka, namun sering kali juga tertutup. Kehadiran Islam dan Kristen ke Jawa dan ke beberapa daerah di tanah air misalnya dapat dijadikan ilustrasi dalam menggambarkan pola relasi dan tarik ulur antara ‘agama pendatang’ di satu sisi dan tradisi lokal di sisi yang lain.
Wednesday, November 14, 2007
KH. Abdullah Sajjad: Membela Bangsa dari Pesantren
Kiai Abdullah Sajjad adalah putra Kiai Syarqawi dari Nyai Qamariyah. Dilahirkan di Guluk-Guluk Sumenep Madura. Tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Namun demikian, nama besarnya tidak bisa dilupakan siapa pun. Beliau adalah pahlawan kemerdekaan yang hidup di pinggiran kota yang bagi sebagian orang kurang begitu tertarik untuk mengungkapnya. Memang beliau bukanlah sosok yang haus sanjungan dan bangga dengan publikasi. Tanpa publikasi sekalipun, semerbak kemasyhurannya dikenal banyak orang. Itu semua karena kebesaran dan peran sosial politiknya yang tidak sederhana. Ia adalah tokoh fenomenal: pendidik, pejuang, dan penulis sekaligus.
KH. Muhammad Ilyas Syarqawi: Sosok Santun dan Menghindari Perpecahan
Sketsa Biografi Intelektual
Kiai Mohammad Ilyas Syarqawi dilahirkan di Guluk-Guluk melalui pasangan Kiai Syarqawi dan Nyai Qamariyah. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun dilihat dari tahun wafatnya, 1959–sementara beliau berusia 70 tahun—maka dapat katakan bahwa beliau lahir pada tahun 1889.
Pendidikan pertamanya dimulai dari asuhan langsung orang tuanya, Kiai Syarqawi. Namun, setelah beranjak dewasa, oleh ayahnya Kiai Mohammad Ilyas dianjurkan untuk
menimba ilmu ke berbagai pesantren, misalnya Pesantren Kademangan asuhan Syaichona Kholil, Pondok Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari, dan beberapa tahun belajar di Mekkah.
Kiai Mohammad Ilyas Syarqawi dilahirkan di Guluk-Guluk melalui pasangan Kiai Syarqawi dan Nyai Qamariyah. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun dilihat dari tahun wafatnya, 1959–sementara beliau berusia 70 tahun—maka dapat katakan bahwa beliau lahir pada tahun 1889.
Pendidikan pertamanya dimulai dari asuhan langsung orang tuanya, Kiai Syarqawi. Namun, setelah beranjak dewasa, oleh ayahnya Kiai Mohammad Ilyas dianjurkan untuk
menimba ilmu ke berbagai pesantren, misalnya Pesantren Kademangan asuhan Syaichona Kholil, Pondok Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari, dan beberapa tahun belajar di Mekkah.
Almaghfurlah KH. Muhammad Syarqawi : Membabat Guluk-Guluk, Merintis Annuqayah
Sekitar akhir paroh pertama atau awal paroh kedua abad ke-19, sosok mungil yang kelak menyinari bumi Guluk-Guluk, lahir di sebuah kota yang terletak 40 kilo meter sebelah timur Semarang, Jawa Tengah. Kudus, demikian orang menyebut kota tersebut. Oleh orang tuanya, Kiai Shidiq Romo, atau dalam riwayat lain disebut dengan Kiai Sudi Kromo, sosok mungil itu diberi nama Muhammad Syarqawi. Peristiwa kelahirannya tidak tercover secara detail. Tidak adanya sumber data yang memadai, menjadikan data-data dan sejarah kehidupannya lebih didominasi sejarah lisan yang diperoleh dari keturunannya. Kecuali itu, Huub de Jonge dalam bukunya, Madura dalam Empat Zaman, sedikit menjelaskan siapa sesungguhnya Kiai Syarqawi itu. Kiai Shidiq Romo, ayah Kiai Syarqawi, dan Kiai Kanjeng Sinuwun, kakeknya, demikian Jonge, merupakan ulama terkemuka yang pengaruhnya meluas di sekitar kota Kudus. Kudus yang saat itu, bahkan saat ini, merupakan pusat dagang dan pusat perkembangan Islam terpenting di Jawa. Letak geografisnya yang membentang di sepanjang Pantai Utara merupakan jalur strategis perdagangan saat itu. Aset ekonomi wilayah itu dikuasai oleh sejumlah pedagang saleh dan kaya, dan di kalangan mereka terbina hubungan yang harmonis dengan elite keagamaan setempat. Hubungan yang harmonis semacam inilah yang menjadikan kerja sama yang baik antara pemuka agama di satu pihak dan pemilik kapital (baca: pedagang) di pihak lain.
Tuesday, November 13, 2007
Membincang Manhaj Fikr NU

Ketika Kang Said Aqil Siradj mengatakan bahwa Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) bukan madzhab melainkan manhaj, silang pendapat di lingkungan nahdliyin tidak terbendung. Bagi Kang Said, alasannya sangat sederhana: bagaimana mungkin di dalam madzhab ada ‘sekoci’ madzhab lagi? Namun bukan tempatnya mengulang kembali debat klasik ini dalam tulisan berikut. Yang patut ditegaskan di sini adalah bagaimana menjadikan Aswaja sebagai manhaj, gugusan paradigmatik-konseptual yang memungkinkannya menjadi alat dan perangkat (tool)baik dalam berpikir maupun bertindak di kalangan nahdliyin.
Subscribe to:
Posts (Atom)