Tak ada yang istemewa lalui hari ini. Sehari menjelang usiaku yang ke-24, ku sempatkan diriki sedikit merenungi masa laluku untuk kemudian rencanakan masa depanku. 24 tahun yang lalu, tepatnya 12 September 1978, aku hadir menyapa alam dengan tangis yang tak seorangpun dapat memahaminya. Saat ini, ku hadir dalam wujud (setengah) dewasa yang masih telusuri identitasnya: identitas yang tak kunjung matang. Karakter kekanak-kanakan itu masih warnai sosokku yang pada dasarnya sudah mulai memikirkan masa depan. Entahlah. Tapi ku menyadari bahwa inilah produk mentalitas yang selalu mau bergantung dan tidak mau mandiri. Kemandirian, sebagaimana sering aku tegaskan, salah satu wujud proses pendewasaan diri, kesiapan untuk memikirkan sendiri apa yang sejatinya dilakoni dalam hidup. Ini bukan berarti menafikan orang lain dalam memutuskan persoalan, melainkan sebagai sikap tidak mau tergantung dan bergantung kepada mereka. Mereka adalah mitra, kawan, sahabat dalam menapaki hidup, bukan tumpuan hidup itu sendiri. Tumpuan hidup itu ada pada diri kita sendiri: kita sendiri yang matang. Tidakkah kau menyadari bahwa usia 24 tahun adalah usia yang tidak lagi muda? Tidakkah kau renungkan berapa banyak waktu yang kau sia-siakan dalam hidupmu? Haruskah kau ulangi kegagalan masa lalumu pada saat mendatang? Jawabannya ada pada dirimu: dirimu yang sadar, yang dewasa, yang matang. Buktikan! And get your ambition. Pass your days away to make your dream comes true. Happy birthday!
Pojok17
21:57
11 September 2002
"Hidup adalah kembara. Kembara untuk merajut mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata. Hidup adalah kembara tanpa akhir."
Wednesday, September 11, 2002
Friday, September 06, 2002
Kemandirian Sebagai Modal
Kemandirian bagiku adalah bagian dari pencarian eksistensi diriku. Eksistensi untuk menjadi siapa Aku sesungguhnya. Di tengah tumpukan ambisi dan ketidak seimbangan ‘hidup’ ini, ku dapatkan diriku menapaki lorong berbatu nan terjal dengan tepian jurang yang curam. Tertatih-tatih menapakinya, kupaksakan sisa tenagaku tuk gapai, walaupun tidak keseluruhan, cita-citaku. Memang sungguh mengasikkan dan sekaligus mengerikan. Tapi, apakah aku harus menghindar dari hambatan itu? Bukankah lorong itu tak selalu lurus dan datar? Bukankah keindahan sebuah pertualangan tidak terletak pada ketunggalan kenyataan dan pemandangan yang ditemui, tetapi pada beragam kenyataan dan pemandangan yang mengawal pertualangan itu? Sesekali aku terdampar dan pada kali lain aku tegar. Itulah lukisan kehidupan yang saat ini aku, atau orang lain, lalui. Build new expactation and reach your future.
Pojok 17
00:07
06 September 2002
Pojok 17
00:07
06 September 2002
Wednesday, October 31, 2001
MY CONFESSION
Ku jalani kembara ini
Dengan suatu harapan yang tercecer
Di antara kepingan-kepingan cita dan asa
Yang sempat terpatri dalam hasrat yang tak kunjung sirna
Dalam keabadian yang tak berawal
Dalam kefanaan yang tak berujung
Ternyata aku tidak sendiri.
Aku tidak sendiri
Bersamamu kawan
Kita jalani keabadian: keabadian sebuah pertualangan, dan
kekekalan sebuah persahabatan
yang menyatu dalam keragaman
Dan..
Aku sadar
Bahwa aku adalah manusia
Yang memiliki kepribadian, identitas, dan karakter yang tidak tunggal
Yang mungkin menyisakan kejanggalan sikap
Yang terpantul dalam ketak-tungalan identitas yang aku punyai
Yang tercipta dalam ketaksadaran sikap yang aku lakukan
Dan menggiringku pada kelancangan yang tak terencana.
Akuilah..
Bahwa aku adalah manusia
Yang mungkin bertindak, sementara kau tak menghendaki
Namun,
Yakinlah kawan
Bahwa itu semua adalah ketaksengajaan
Yang mungkin tercipta dalam laku setiap insan
Termasuk aku yang egois ini
Dan
Abadikan kembara ini
Dalam keabadian sebuah persahabatan:
Sebuah persahabatan tanpa akhir dan
Abadi selamanya.
*) Kudedikasikan ungkapan ini untuk kawan-kawan yang telah menemaniku dalam sedih dan bahagia selama belajar di Pare, Kediri.
Heaven Villa, Pare, Kediri
22:58
30 Oktober 2001
Dengan suatu harapan yang tercecer
Di antara kepingan-kepingan cita dan asa
Yang sempat terpatri dalam hasrat yang tak kunjung sirna
Dalam keabadian yang tak berawal
Dalam kefanaan yang tak berujung
Ternyata aku tidak sendiri.
Aku tidak sendiri
Bersamamu kawan
Kita jalani keabadian: keabadian sebuah pertualangan, dan
kekekalan sebuah persahabatan
yang menyatu dalam keragaman
Dan..
Aku sadar
Bahwa aku adalah manusia
Yang memiliki kepribadian, identitas, dan karakter yang tidak tunggal
Yang mungkin menyisakan kejanggalan sikap
Yang terpantul dalam ketak-tungalan identitas yang aku punyai
Yang tercipta dalam ketaksadaran sikap yang aku lakukan
Dan menggiringku pada kelancangan yang tak terencana.
Akuilah..
Bahwa aku adalah manusia
Yang mungkin bertindak, sementara kau tak menghendaki
Namun,
Yakinlah kawan
Bahwa itu semua adalah ketaksengajaan
Yang mungkin tercipta dalam laku setiap insan
Termasuk aku yang egois ini
Dan
Abadikan kembara ini
Dalam keabadian sebuah persahabatan:
Sebuah persahabatan tanpa akhir dan
Abadi selamanya.
*) Kudedikasikan ungkapan ini untuk kawan-kawan yang telah menemaniku dalam sedih dan bahagia selama belajar di Pare, Kediri.
Heaven Villa, Pare, Kediri
22:58
30 Oktober 2001
Thursday, October 18, 2001
The Real-You
Ketika pesona kaburkan cita,
buyarkan asa, dan sirnakan idealisme.
Patut kau bertanya.
Bulatkah niat tulusmu tuk ukir sejarah: sejarah masa depanmu?
Ketika cinta musnahkan semangat,
yang kau genggam utuh sebelum melangkah.
Patut kau bersaksi,
bahwa cinta bukan segala-galanya.
Ketika kau lumuri hasratmu dengan kesemuan dan absurditas,
di mana kemudian kau sematkan anyaman sumpah yang pernah kau lampiaskan
tuk gapai “sejarah kedirianmu”?
Patut kau berfikir
bahwa sejarah kedirianmu jauh lebih berharga dari angan artifisialmu.
Hanya ada satu jalan:
Luruskan dan lapagkan niatmu dan carilah makna kembaramu:
Makna sebuah kembara yang nyaris terkubur dalam imagi abstrakmu.
Dan kau temukan dirimu yang sesungguhnya. THE REAL-YOU.
Heaven Villa, Pare, Kediri
23:00
17 Oktober 2001
buyarkan asa, dan sirnakan idealisme.
Patut kau bertanya.
Bulatkah niat tulusmu tuk ukir sejarah: sejarah masa depanmu?
Ketika cinta musnahkan semangat,
yang kau genggam utuh sebelum melangkah.
Patut kau bersaksi,
bahwa cinta bukan segala-galanya.
Ketika kau lumuri hasratmu dengan kesemuan dan absurditas,
di mana kemudian kau sematkan anyaman sumpah yang pernah kau lampiaskan
tuk gapai “sejarah kedirianmu”?
Patut kau berfikir
bahwa sejarah kedirianmu jauh lebih berharga dari angan artifisialmu.
Hanya ada satu jalan:
Luruskan dan lapagkan niatmu dan carilah makna kembaramu:
Makna sebuah kembara yang nyaris terkubur dalam imagi abstrakmu.
Dan kau temukan dirimu yang sesungguhnya. THE REAL-YOU.
Heaven Villa, Pare, Kediri
23:00
17 Oktober 2001
Tuesday, January 05, 1999
Utopisme Islam Politik
Dalam imajinasi politik Islam ada kecenderungan untuk menghadirkan sebuah “komunitas imagener” yang kerap dilekatkan pada komunitas muslim pertama. Kecenderungan yang bercorak romantik-atavistik ini menginginkan hadirnya kembali komunitas dan sistem politik par excellence pada masa Nabi dan empat khalifah Islam pertama.
Sebagaimana tampak dalam tulisan Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwan al-Muslimin di Mesir, dan Abu al-A’la al-Maududi di Pakistan, gerakan ini mengawali gagasan pemikiran baru yang berupaya menjadikan Islam sebagai ideologi politik. Tentu saja, artikulasi politik yang diperankan ini merujuk pada “tipe ideal” negara Madinah yang dibangun Nabi. Fenomena inilah yang mewarnai panggung politik Islam mutakhir, fenomena apa yang oleh Olivier Roy, penulis buku ini, disebut sebagai Islamisme. Persoalannya, apakah gerakan Islam politik ini menawarkan alternatif baru bagi masyarakat muslim? Inilah yang menjadi fokus kajian buku ini.
Dalam buku ini, Olivier Roy yang juga penulis buku Islam and Resistance in Afghanistan menyuguhkan pembacaan serius mengenai gerakan Islam politik kontemporer. Dari pengamatannya, Olivier Roy melihat bahwa gerakan Islam politik kontemporer terfragmentasi menjadi dua kutub utama. Kutub pertama berwatak revolusioner (Islamisme) dan kutub lainnya bercorak reformis (neofundamentalisme). Kutub revolusioner ini berupaya melakukan Islamisasi masyarakat melalui panggung kekuasaan, negara Islam. Bagi kelompok ini, masyarakat yang terdiri dari orang-orang Islam saja tidak cukup, tetapi landasan maupun strukturnya pun harus Islami. Oleh karena itu, setiap orang berkewajiban memberontak terhadap negara muslim yang dinilai korup, bahkan juga keharusan untuk mengekskomunikasikan penguasa yang dinilai murtad.
Sayangnya, Islamisme ini gagal melapangkan ambisinya. Islamisme sama sekali tidak memberikan peranti konseptual dalam memikirkan realitas politik seseorang. Selain itu, Islamisme belum mampu melampaui sekat nasionalisme dan etnisitas.
Dalam kasus tertentu, pertentangan antara Syi’ah dan Sunni, misalnya, menjadi faktor determinan dalam hubungan luar negeri dan kebijakan negara-negara muslim. Di Afganistan, oposisi lama antara suku Pasthun dan non-Pasthun hingga saat ini masih mewarnai pertarungan politik setempat. Di Malaysia, Islamisme menjadi ekspresi ketegangan etnis dengan Cina. Di Aljazair, arabisasi yang diagungkan-agungkan FIS (Front Penyelamat Islam) ternyata merugikan suku tertentu, suku Kabyle.
Gagalnya menyuguhkan peranti konseptual ditambah dengan belum mampunya melampaui sekat nasionalisme dan etnisitas, Islamisme akhirnya mengalami metamorfosa menjadi neofundamentalisme.
Berbeba dengan Islamisme, neofundamentalisme lebih bertujuan melakukan reislamisasi masyarakat dari bawah. Kendatipun memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda dengan Islamisme, yaitu membentuk negara Islam, neofundamentalisme lebih melakukan dakwah agar orang kembali mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Dengan kampanye prosyariat, mereka layaknya para mullah fundamentalis yang bermimpi menciptakan tatanan masyarakat yang benar-benar Islami. Di tangan kaum neofundamentalis inilah politik, meminjam tesis Ulil Absar Abdalla, mengalami semacam ritualisasi, pengibadatan. Oleh karena itu, jangan heran apabila konsep politik dalam Islam lebih menekankan moralitas pemimpin, atau lebih tepatnya kesalehan dan ketakwaan pemimpinnya. Alih-alih menciptakan bentuk politik baru, yang terjadi adalah konservatifasi politik dan lebih berkutat pada perbincangan mengenai kualitas dan kesalehan pemimpin, sementara perbincangan pembentukan institusi berhenti hanya pada tataran perencanaan saja. Singkatnya, gerakan ini tidak lebih sebagai praktik tautologis yang sama sekali tidak memberikan artikulasi sistem politik baru. Politik Islam, meminjam istilah Bahtiar Effendi dalam pengantar buku ini, mengalami disartikulasi.
***
Meskipun buku ini tidak memotret secara khusus fenomena Islam politik di Indonesia, buku ini dapat dijadikan studi perbandingan dalam mencermati fenomena aktivisme religius di tanah air. Maraknya desakan legislasi syariat Islam di berbagai penjuru tanah air, misalnya, menjadi indikasi mengentalnya semangat Islamisasi politik. Menurut Olivier Roy, legislasi syariat tidak lebih sebagai bentuk kemunafikan, atau dalam istilah yang digunakannya, hile shar’i: akal-akalan hukum yang pada akhirnya memungkinkan umat mengelak dari larangan syariat tanpa terbebani dosa.
Selain itu, menjamurnya bank-bank yang berlabel “syariah” di tanah air juga dapat dibaca sebagai indikasi semangat serupa. Sungguhpun, tegas Olivier Roy, bank Islam (syariah) hanyalah strategi pemasaran dan bukanlah suatu pola tatanan sistem perekonomian baru. Label syariah hanyalah dijadikan sebagai produk menggiurkan di tengah-tengah fenomena bangkitnya aktivisme religius di tanah air, bukan sebagai alternatif sistem ekonomi baru.
Buku ini layak dibaca siapa saja yang mendalami peta politik Islam di dunia, tidak terkecuali politik Islam di tanah air. Dengan kajian yang serius dan dan dilengkapi data yang akurat, Olivier Roy melalui buku ini hadir sebagai pengamat gerakan Islam politik yang tak tertandingi. Tentu saja kita berhak untuk membantah dan mendebatnya, sebagaimana kita juga berhak menyetujuinya.[Resensi Buku "Gagalnya Islam Politik" karya Oliver Roy, namun gagal dimuat di media. :(]
Sebagaimana tampak dalam tulisan Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwan al-Muslimin di Mesir, dan Abu al-A’la al-Maududi di Pakistan, gerakan ini mengawali gagasan pemikiran baru yang berupaya menjadikan Islam sebagai ideologi politik. Tentu saja, artikulasi politik yang diperankan ini merujuk pada “tipe ideal” negara Madinah yang dibangun Nabi. Fenomena inilah yang mewarnai panggung politik Islam mutakhir, fenomena apa yang oleh Olivier Roy, penulis buku ini, disebut sebagai Islamisme. Persoalannya, apakah gerakan Islam politik ini menawarkan alternatif baru bagi masyarakat muslim? Inilah yang menjadi fokus kajian buku ini.
Dalam buku ini, Olivier Roy yang juga penulis buku Islam and Resistance in Afghanistan menyuguhkan pembacaan serius mengenai gerakan Islam politik kontemporer. Dari pengamatannya, Olivier Roy melihat bahwa gerakan Islam politik kontemporer terfragmentasi menjadi dua kutub utama. Kutub pertama berwatak revolusioner (Islamisme) dan kutub lainnya bercorak reformis (neofundamentalisme). Kutub revolusioner ini berupaya melakukan Islamisasi masyarakat melalui panggung kekuasaan, negara Islam. Bagi kelompok ini, masyarakat yang terdiri dari orang-orang Islam saja tidak cukup, tetapi landasan maupun strukturnya pun harus Islami. Oleh karena itu, setiap orang berkewajiban memberontak terhadap negara muslim yang dinilai korup, bahkan juga keharusan untuk mengekskomunikasikan penguasa yang dinilai murtad.
Sayangnya, Islamisme ini gagal melapangkan ambisinya. Islamisme sama sekali tidak memberikan peranti konseptual dalam memikirkan realitas politik seseorang. Selain itu, Islamisme belum mampu melampaui sekat nasionalisme dan etnisitas.
Dalam kasus tertentu, pertentangan antara Syi’ah dan Sunni, misalnya, menjadi faktor determinan dalam hubungan luar negeri dan kebijakan negara-negara muslim. Di Afganistan, oposisi lama antara suku Pasthun dan non-Pasthun hingga saat ini masih mewarnai pertarungan politik setempat. Di Malaysia, Islamisme menjadi ekspresi ketegangan etnis dengan Cina. Di Aljazair, arabisasi yang diagungkan-agungkan FIS (Front Penyelamat Islam) ternyata merugikan suku tertentu, suku Kabyle.
Gagalnya menyuguhkan peranti konseptual ditambah dengan belum mampunya melampaui sekat nasionalisme dan etnisitas, Islamisme akhirnya mengalami metamorfosa menjadi neofundamentalisme.
Berbeba dengan Islamisme, neofundamentalisme lebih bertujuan melakukan reislamisasi masyarakat dari bawah. Kendatipun memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda dengan Islamisme, yaitu membentuk negara Islam, neofundamentalisme lebih melakukan dakwah agar orang kembali mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Dengan kampanye prosyariat, mereka layaknya para mullah fundamentalis yang bermimpi menciptakan tatanan masyarakat yang benar-benar Islami. Di tangan kaum neofundamentalis inilah politik, meminjam tesis Ulil Absar Abdalla, mengalami semacam ritualisasi, pengibadatan. Oleh karena itu, jangan heran apabila konsep politik dalam Islam lebih menekankan moralitas pemimpin, atau lebih tepatnya kesalehan dan ketakwaan pemimpinnya. Alih-alih menciptakan bentuk politik baru, yang terjadi adalah konservatifasi politik dan lebih berkutat pada perbincangan mengenai kualitas dan kesalehan pemimpin, sementara perbincangan pembentukan institusi berhenti hanya pada tataran perencanaan saja. Singkatnya, gerakan ini tidak lebih sebagai praktik tautologis yang sama sekali tidak memberikan artikulasi sistem politik baru. Politik Islam, meminjam istilah Bahtiar Effendi dalam pengantar buku ini, mengalami disartikulasi.
***
Meskipun buku ini tidak memotret secara khusus fenomena Islam politik di Indonesia, buku ini dapat dijadikan studi perbandingan dalam mencermati fenomena aktivisme religius di tanah air. Maraknya desakan legislasi syariat Islam di berbagai penjuru tanah air, misalnya, menjadi indikasi mengentalnya semangat Islamisasi politik. Menurut Olivier Roy, legislasi syariat tidak lebih sebagai bentuk kemunafikan, atau dalam istilah yang digunakannya, hile shar’i: akal-akalan hukum yang pada akhirnya memungkinkan umat mengelak dari larangan syariat tanpa terbebani dosa.
Selain itu, menjamurnya bank-bank yang berlabel “syariah” di tanah air juga dapat dibaca sebagai indikasi semangat serupa. Sungguhpun, tegas Olivier Roy, bank Islam (syariah) hanyalah strategi pemasaran dan bukanlah suatu pola tatanan sistem perekonomian baru. Label syariah hanyalah dijadikan sebagai produk menggiurkan di tengah-tengah fenomena bangkitnya aktivisme religius di tanah air, bukan sebagai alternatif sistem ekonomi baru.
Buku ini layak dibaca siapa saja yang mendalami peta politik Islam di dunia, tidak terkecuali politik Islam di tanah air. Dengan kajian yang serius dan dan dilengkapi data yang akurat, Olivier Roy melalui buku ini hadir sebagai pengamat gerakan Islam politik yang tak tertandingi. Tentu saja kita berhak untuk membantah dan mendebatnya, sebagaimana kita juga berhak menyetujuinya.[Resensi Buku "Gagalnya Islam Politik" karya Oliver Roy, namun gagal dimuat di media. :(]
Subscribe to:
Posts (Atom)