Monday, July 16, 2012

Nishfu Sya’ban dan Malam Pertanggungjawaban Amal

A. Fawaid Sjadzli*

Memperingati malam nishfu Sya’ban merupakan tradisi turun-temurun hingga saat ini. Tidak saja di Indonesia, menggiatkan malam nishfu Sya’ban dengan ritual khusus serta memperbanyak zikir dan doa juga dilakoni di beberapa Negara di Timur Tengah. Di Mesir misalnya, sebagaimana digambarkan Mahmud Syaltout dalam bukunya Min Tawjîhât al-Islâm (2004/383), diisi dengan melaksanakan shalat dua rakaat usai Shalat Magrib dan membaca surah Yâsîn tiga kali dengan niat panjang umur, tolak balak, dan rizki yang melimpah serta barakah. Ritual ini tidak berbeda dengan apa yang kita saksikan di tanah air.


Di beberapa daerah, malam nishfu Sya’ban dijadikan sebagai momentum pertobatan dan “pelunasan dosa” yang membentang sepanjang satu tahun. Sehingga tidak berlebihan bila mereka “bergerilya” untuk memohon maaf kepada orang tua, guru, dan sejawat. Semua itu dilakukan semata-mata berharap maaf atas segala apa yang telah dilakukan selama ini. Tidak saja dijadikan momentum permaafan, di beberapa daerah di tanah air, malam nishfu Sya’ban juga dijadikan “malam kebersamaan dan persahabatan”. Malam itu ditandai dengan ritual makan bersama usai ritual maaf-maafan.

Bila demikian faktanya, apakah ritual ini dimusnahkan lantaran tidak didasarkan pada argumen normatif yang valid dan kredibel, bahkan dinilai bid’ah yang menyesatkan atau dibiarkan tumbuh berkembang sepanjang tidak bergeser dari jalur agama yang sahih?

Kreatifitas yang Positif 

Sebagian kalangan dengan mudah menuduh kebiasaan menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan shalat sunnah dan membaca surah yâsîn tiga kali sebagai bid’ah. Kesimpulan ini didasarkan pada kenyataan tidak adanya argumen normatif yang sahih baik dalam al-Qur’an atau pun dalam hadits, sehingga kebiasaan ini dinilai sebagai tindakan mengada-ada dalam agama. Padahal tidak sedikit hadits yang saling menguatkan yang menguraikan keagungan malam nishfu Sya’ban yang kemudian diterjemahkan oleh komunitas muslim di beberapa negara dengan berbagai ritual positif seperti membaca surah yâsîn dan tradisi maaf-maafan. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi, Ibn Majah, dan Ahmad dari Ummul Mu’minin Aisyah RA. Aisyah RA berkata: “Suatu malam, Nabi Muhammad SAW menghilang. Lalu saya mencarinya dan ternyata beliau ada di Baqi’ seraya menengadahkan kepalanya ke langit. Lalu Nabi berkata kepada Aisyah: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau khawatir bahwa Allah dan Rasul-Nya mengabaikanmu? Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya mengira engkau mengunjungi sebagian istri-istrimu. Nabi berkata, “Sesungguhnya (rahmat) Allah turun ke langit yang paling bawah pada malam Nishfu Sya’ban dan Ia mengampuni dosa-dosa yang melebihi dari jumlah bulu kambing milik suku Kalb”. (HR. al-Turmudzi, Ibn Majah, dan Ahmad)

Dalam Hadits lain dijelaskan bahwa Allah melihat kepada seluruh hamba pada malam Nisfu Sya’ban lalu mengampuni mereka semua, kecuali orang yang musyrik dan yang bermusuhan. (HR. Thabrani dari Mu’adz ibn Jabal RA). Hadits ini juga dikuatkan dengan Hadits lain, yaitu: Rasulullah bersabda “Apabila telah datang malam Nishfu Sya’ban, maka beribadahlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya. Sesungguhnya (rahmat) Allah turun pada malam itu ke langit yang paling bawah ketika terbenamnya matahari, kemudian Allah menyeru “Adakah orang yang meminta maaf kepadaku, maka akan Aku ampuni; Adakah yang meminta rezeki, maka Aku akan melimpahkan rezeki kepadanya; Adakah orang yang sakit, maka akan Aku sembuhkan”. Dan hal-hal yang lain sampai terbitnya fajar.” (HR Ibn Majah dari Ali ibn Abi Thalib)

Beberapa hadits tersebut memberikan perspektif kepada kita bahwa malam Nishfu Sya’ban merupakan salah satu malam dari beberapa malam yang diistemewakan oleh Allah, sehingga Nabi Muhammad SAW perlu secara khusus melakukan ritual munâjat kepada Allah di Baqi’. Bahkan dalam hadits di atas juga ditegaskan bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan berpuasa pada siang harinya merupakan suatu hal yang dianjurkan. Jika demikian, maka suatu hal yang wajar jika di beberapa negara dan beberapa wilayah di tanah air ini masyarakat muslim melakukan ritual shalat sunnah dan membaca surah Yâsîn tiga kali dengan harapan panjang umur dalam rangka beribadah kepada Allah Swt, memohon rezeki yang melimpah dan halal guna dinafkahkan di jalan Allah Swt, atau pun memohon keteguhan iman.

Selain ritual ibadah shalat sunnah dan membaca surah Yasîn, malam Nishfu Sya’ban juga dilengkapi dengan forum saling memaafkan. Di beberapa daerah, usai membaca surah Yâsin tiga kali dan dilanjutkan shalat Isya’ berjama’ah, peringatan ini dipungkasi dengan forum saling bermaafan dan makan bersama. Tradisi saling memaafkan ini di samping karena faktor penyambutan bulan Sya’ban sebagai bulan ‘pelaporan amal’, juga karena bulan ini merupakan bulan yang menjembatani Rajab dan Ramadlan. Bulan Sya’ban adalah ‘bulan persiapan’ menyambut Ramadlan. Dalam sebuah hadits, menjawab pertanyaan Usamah terkait mengapa Nabi Muhammad SAW berpuasa pada Bulan Sya’ban tidak seperti pada bulan-bulan yang lain, Nabi menjawab:

 ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ (أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة)

Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dan Ramadlan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karena itu, aku ingin pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR Abu Dawud dan al-Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibn Khuzaimah)

Jika demikian kenyataannya, terlalu terburu-buru bila kita segera menvonis ritual yang dilakoni masyarakat Islam pada malam Nishfu Sya’ban sebagai bid’ah yang berdampak dlalâlah (sesat) dan berujung sanksi di neraka. Dalam konteks ini, Dr. Ali Jum’ah, mufti Mesir, membantah tudingan bid’ah terkait tradisi menghidupkan malam Nishfu Sya’ban. Menurutnya, pertama, malam Nishfu Sya’ban merupakan malam yang barakah. Keutaman malam ini ditopang oleh beberapa hadits yang meskipun lemah (dla’if) namun bisa saling menguatkan, bahkan meningkatkannnya pada level hasan.

Kedua, peringatan acara-acara keagamaan, termasuk peringatan malam Nishfu Sya’ban, merupakan peringatan yang dianjurkan sepanjang tidak diisi dengan aktifitas-aktifitas yang dilarang menurut syara’. Bahkan, ketiga, memperingati malam Nishfu Sya’ban bukan saja dianjurkan, malah dianggap sebagai bentuk pengagungan syi’ar-syiar Allah. “Dan barang siapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj [22]: 32)  

Menuju Ramadlan

Modal spiritual yang dilakoni orang mukmin sepanjang Rajab dan Sya’ban bisa menjadi bekal dalam menghadapi Ramadlan. Bulan ‘penggemblengan’ dan ‘pelatihan’ untuk kembali menjadi manusia yang ‘bersih’, manusia yang sesuai dengan fitrah. Dalam tradisi beberapa pesantren seringkali para santri saling bermaaf-maafan sebelum datangnya waktu ujian. Meski bisa bermacam-macam niatnya, namun biasanya hal itu diniatkan agar bisa lulus ujian dengan baik.

Logika ini sebenarnya masuk akal, karena keberhasilan ujian tidak cukup jika hanya diusahakan dengan belajar, namun harus juga didukung dengan doa yang kuat. Doa yang lebih cepat diterima adalah do’a yang dilantunkan oleh orang-orang yang sedikit dosanya. Karenanya, meminta maaf kepada guru, orang tua, dan juga teman adalah sedikit usaha untuk mengurangi dosa yang telah ada. Sebuah upaya untuk ‘membersihkan diri’ agar do’a kita lebih mungkin untuk diterima Allah.

Maka demikian pula halnya menyambut Ramadlan. Tidak berlebihan kiranya jika kita juga berusaha untuk ‘mengurangi’ dosa dengan meminta maaf kepada sesama dan memohon ampunan kepada Penguasa alam pada bulan Rajab dan Sya’ban yang datang sebelum Ramadlan. Tentu saja hal ini diniatkan agar doa-doa kita untuk sukses menjalani ujian selama Ramadlan lebih mungkin diijabah oleh Allah SWT. Usaha yang akan mengawali sebuah perjuangan untuk kembali menjadi manusia yang sesungguhnya. Ya Allah, berkahilah kami pada Bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukan kami dengan Bulan Ramadlan. Allahumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya’bâna wa ballighnâ Ramadlâna.[afs]

Dimuat di www.pondokpesantren.net

1 comment:

  1. suami saya sering kebingungan kalau diminta ngisi ceramah (kelas lokal lho ya), terutama untuk tema-tema khusus yang jarang dibahas dg lengkap dan dipublish di internet. tulisan mas fawaid bisa nih aku share ke suami buat bahan ceramah. lengkap dan tuntas :)

    ReplyDelete